Berita Meninggal Dan Pindah

peti matiBerita berikut ini dipetik dari hariansib.com dibawah judul “KPUD Taput Survei Pemutakhiran DPS Pilpres” oleh redaksi Harian SIB tertanggal 19 Mei 2009 untuk kategori Marsipature Hutanabe, berikut beritanya:

Tarutung (SIB)
Guna lebih mengetahui kondisi real pemutakhiran data pemilih sementara (DPS) Pemilu Presiden (Pilpers) 9 Juli mendatang yang masih mengacu pada DPT (daftar pemilih tetap) pemilu legislatif yang lalu, KPUD Tapanuli Utara melakukan survey (tinjauan hasil lapangan sebagai penilaian kinerja) di 3 kecamatan yang dinilai sebagai wilayah yang representative (mewakili) beberapa kecamatan sebagai langkah awal survey yang dilakukan meski akan berlanjut di beberapa kecamatan lainnya, Jumat (15/3) Kecamatan tersebut yakni Tarutung, Sipoholon dan Siatasbarita.

Ketua KPUD Taput Lamtagon Manalu SSi didampingi Anggota KPU Janpiter Lumbantoruan SH, Erids Aritonang, Harianja, Jumat (15/3) di ruang kerjanya menyebutkan, hasil survey menunjukkan masih ada pemilih yang belum terjaring untuk mengikuti pesta demokrasi 9 Juli mendatang. Meski demikian pihaknya akan terus mengintensifkan kinerja yang mereka lakukan bersama PPK, PPS dan PPDP setempat untuk menjaring pemilih, hingga akhirnya seluruh warga yang masuk kriteria pemilih akan memperoleh hak nya untuk menentukan pilihan. “Selain itu kita juga menghimbau agar warga juga proaktif melihat daftar DPS Pilpres yang telah disebar di masing-masing TPS agar tidak ada yang kehilangan hak pilih,” ujarnya.

Ditambahkannya, sesuai data KPUD hingga saat ini, pihaknya telah mencoret 9.736 nama pemilih yang sudah meninggal, pindah dan masih di bawah umur serta menambahkan 8518 nama pemilih sesuai criteria prosedur untuk memilih pada DPS. Menurutnya angka pemilih di Taput pada Pilpers mendatang, tidak jauh dari angka 180. 000 pemilih sebab angka pemilih yang dicoret dan ditambahkan tidak jauh berbeda. Terkait penetapan hasil pemilu legislatif yang lalu , hingga saat ini pihaknya masih menunggu surat edaran KPU Pusat dan menunggu hasil putusan Mahkamah Konstitusi pada beberapa gugatan. “Penetapan diperkirakan akan dilakukan pada pertengahan Juni,” bulan depan, paparnya.(Car/g).

Setelah kita lelah mengikuti berita tentang Pemilu legislatif dengan segala kesemrawutannya maka sekarang kita sudah disuguhkan lagi dengan menghangatnya berita-berita Pilpres dan wapres. Tak ketinggalan para aparat di Taput sudah kelihatan menyibukkan diri untuk mempersiapkan kalau boleh kita sebut sebagai Pesta Nasional Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Kalau melihat semangat mereka untuk memutahirkan data pemilih tentu harus diacungkan jempol, walaupun sebenarnya baru lewat beberapa bulan mereka mengadakan  pemilihan Bupati Tapanuli Utara berulang untuk kedua kalinya. Cerita pemutahiran data tentu karena ada data yang tak mutahir pada data pemilih sebelumnya, atau memang di Tapanuli Utara terjadi mobilisasi penduduk yang sangat cepat sehingga perlu dimutahirkan data pemilih yang baru saja belum lama berlalu.

Dari berita ini disebutkan bahwa KPUD telah mencoret 9.736 nama pemilih yang diantaranya sudah meninggal, pindah dan masih dibawah umur, sementara adapula penambahan data sebanyak 8.518 yang katanya sesuai kriteria prosedur sebagai pemilih. Kalau kita ambil hitungan gampangnya bahwa  ada ⅓ atau sekitar 3.250 yang meninggal dalam 6 bulan terakhir, tentu Taput kita sebut saja kota mati (meninggal = mati), dan 3.250 yang pindah dalam 6 bulan terakhir, tentu kita sebut saja kota tak berpenghuni, dan sisa ⅓ lagi adalah dibawah umur yang mengikuti Pemilu Legislatif dan Pemilihan Bupati tempohari. Kalau saat ini hanya sekitar 180.000 yang punya hak pilih, dan dengan ratio kematian dan pindah sebesar 6.500 per 6 bulan maka dalam jangka 14-15 tahun sudah tak adalagi penduduk Taput sebagai pemilih. Dapatkah Taput kita sebut menjadi Kabupaten Mati dan Kabupaten Takberpenghuni 15 tahun lagi?

Mungkin analisa kecil di atas dianggap sebagai canda-candaan saja, tetapi kalau kita lihat lagi data kebelakang mungkin kita mulai serius hitung-hitungan. Tidak perlu harus ahli matematika, atau ahli kependudukan untuk menghitung habisnya penduduk Taput. Statistik sederhana dapat menunjukkan bukti kalau boleh disebut judul diatas sebagai indikatornya.

Pada masa Tapanuli Utara masih satu dengan kabupaten-kabupaten sebelum ada pemekaran, bahwa jumlah penduduk adalah 5.626.569 (lima juta enam ratus ribuan) jiwa berdasarkan SUSENAS tahun1984. Pada saat Tapanuli Utara setelah pemekaran hanya berpenduduk sebanyak 262.642 (dua ratus enam puluh dua ribuan) jiwa berdasarkan pendataan April 2003. Artinya yang tinggal di Taput tak sampai 5%nya dalam kurun waktu 20 tahun dari tahun 1984 sampai 2003, 95% entah kemana. Terlepas adanya penciutan wilayah, yang jelas bahwa penduduk Taput terus berkurang tahun demi tahun berdasarkan bukti di atas. Apakah ini dapat kita sebut sebagai tendensi akan ditinggalkannya Taput sebagai kawasan berpenghuni? Kalau sudah tidak ada penghuninya apakah masih ada yang disebut Pemerintahan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara?

Mungkin kita masih belum mau mengakui adanya tendensi yang diceritakan di atas karena memang agak malaslah untuk ambil kalkulator menguji kebenaran perhitungan statistik sederhana di atas. Tetapi coba lagi kita ingat-ingat suasana yang bisa dikenang pada tahun-tahun sebelum diadakannya Susenas 1984. Bagi yang masih berdomisili di Taput sekarang ini dan pada tahun-tahun sebelum Susenas 1984 sudah mampu mengenang atau istilah keren jaman itu “nga tigor be kossingna (maaf..)” tentu masih melekat di alam bawah sadar tentang suasana-suasana yang ada. Atau bagi yang dulunya sempat dibesarkan disana tentu akan mampu juga mengenang kembali suasana itu.

Ceritanya kira-kira begini: Pada jaman itu, masih banyak berkeliaran delman-delman, -bahasa sana disebut sadu-, sebagai alat transportasi umum di kota-kota kabupaten atau kecamatan dan saat ini di pelosok desa sudah hampir tak ada kelihatan yang namanya kuda (Equus Caballus), padahal di pinggiran Kota Bandung masih digunakan sebagai alat transportasi umum, di Kota Metropolitan Jakarta masih ada digunakan untuk arakan-arakan perayaan. Kemana perginya? Mungkin mereka kuda-kuda sudah meninggal dan pindah? Pada jaman baheula, Tanah Batak terkenal dengan penangkaran kudanya, dan bahkan kata batak berasal dari kata “mammatak atau mambatak” yang artinya memecut kuda untuk berlari kencang layaknya dipacuan atau berperang. Sekarang kegiatan pacuan kuda saja di Siborong-borong pun sudah hilang.

Pada jaman itu masih ditemukan babi kampung (jenis babi kecil yang kalau beranak perut induknya sampai terseret-seret ketanah, latin = Sus Batakensis?) yang diternakkan dan bahkan berkeliaran. Tetapi karena ada kebijakan Pemda untuk mengkandangkan ternak babi kampung itu dengan alasan untuk memancing datangnya para turis maka babi kampung itupun sekarang sudah hilang. mungkin sudah meninggal dan pindah? Batang hidung turis mancanegara yang dicanangkanpun tak pernah kelihatan, kalaupun ada satu dua dalam sebulan sudah syukur, untuk pipis saja tak sempat sudah langsung pulang mereka. Turis domestik paling pada hari-hari kebesaran keagamaan dengan rombongan ke Salib Kasih, tapi kayaknya bekas orang-orang sono juga, karena cendramata disana tak pernah laku. Jadi, turis tak datang babi kampung pun hilang, suatu kebijakan yang salah dari pemerintahnya. Bagaimana mungkin masyarakat mampu beternak babi ukuran rumahan dengan pengkandangan, karena biaya untuk memelihara dikandang sudah lebih mahal daripada membiayai manusia? Kalaupun ada yang memelihara satu dua ekor, maka akan sering terdengar cerita seorang ibu yang baru pulang dari pesta dan sesampai dirumah bertanya pada anaknya: “Ai nga dilehon hamu babi i mangan? (=apa sudah kalian beri makan babinya?)” sementara anak-anaknya tak lagi diperhatikan apa sudah makan atau tidak. Kalau sekarang babi yang ada di Taput adalah jenis yang mereka sebut babi cina atau babi Australia (Suinae) karena berkulit putih, atau ada juga yang berkulit hitam (Sus Scrofa Domesticus), itupun datangnya sudah dalam bentuk daging dari Simalungun atau Medan. Kalau penduduk Taput sekarang ini mengidamkan memakan babi kampung seperti dulunya yang mereka gemari, maka kerinduan itu hanya dapat dipenuhi dengan meng-import dari daerah Sialang Buah – Sergei, karena disana masih dipelihara berkeliaran bahkan dijalan-jalan raya beraspal.

Pada jaman itu, disetiap anak sungai atau yang disebut bondar, atau di sawah yang berair akan banyak berkeliaran jenis ikan pora-pora atau tawes (Puntius Javanicus. Blkr), siburiccak, kapalatima (Aplocheilus panchax), bahkan disetiap sawah yang akan ditanami akan banyak ditemukan ikan kecil sejenis ikan gabus kecil yang disebut itok (Channa). Kalau hanya untuk mencegah kekurangan kalori dan gizi, pada jaman itu sangat gampang mengatasinya. Hanya bermodalkan kaus kutang dan ditanggokkan ke bondar maka ratusan ikan-ikan kecil itu sudah tertangkap. Kita hanya menyediakan kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale),, sanggesangge (Ground Cinnamon), bawang merah (Allium ascalonicum L.), cabe merah (Chili pepper), bawang batak (Lokio) dan garam, maka jadilah pora-pora arsik atau kapalatima arsik, apalagi kalau pakai ittir-ittir atau andaliman (Z. acanthopodium) maka lengkaplah nikmatnya. Sekarang ini hampir tak pernah lagi kelihatan dan mungkin mereka sudah meninggal dan pindah? Kalau jenis ikan mas (Cyprinus Carpio) sudah jelas tak diternakkan lagi, bukan karena peternaknya takut tetapi justru ikannya yang takut dicuri maling pada malam hari.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita yang “meninggal dan pindah”. Sekarang, kalau kita kembali ke cerita manusia Taput yang hilang, kemudian tiga cerita hewan yang juga hilang, tentu akan timbul pertanyaan. Mula-mula pertanyaannya kecil lalu timbullah tanda Tanya besar ? Lalu bertanya lagi, ada apa ya…? Kok bisa ya…? Ah masya iya…?

Umumnya kalimat tanya yang berderet-deret itu tertuju pada diri masing-masing yang mulai menanyakan dirinya sendiri, lalu mencari tau, lalu membuat beberapa kesimpulan, lalu mendapatkan jawaban pada dirinya sendiri. Kalau sudah mendapatkan jawabannya sebenarnya lebih baik memberitahukan kepada teman-temannya atau saudara-saudaranya yang ada di Taput sekarang ini agar mereka-mereka yang sedang mencari jawaban lebih mendapat jalan terbuka untuk menjawabnya sendiri.

Kalau orang-orang generasi sekarang yang dituntut untuk mencari jawaban maka parameter-parameter logis akan menjadi suatu keyakinan mutlak. Lain lagi dengan kelompok orang-orang yang masih melekat pandangan orthodox-nya, akan mencari jawaban lebih banyak melalui pandangan spiritualisme, semisal apabila tanggul Aek Sigeaon –sungai yang mengalir ditengah kota Tarutung- bobol mengakibatkan sawah-sawah disekitarnya akan kebanjiran dan terendam pasir, maka mereka akan mengatakan masyarakat disekitarnya sudah banyak berbuat dosa sehingga tuhan menghukumnya. Kalau kelompok orang-orang yang berpandangan realisme akan mengatakan bahwa endapan pasir di Aek Sigeaon sudah sedemikian tinggi sehingga air yang meluap akan mendesak dinding tanggul bagian atas yang kritis maka tumpahlah pasir dan banjir menutupi sawah. Dari dua kelompok yang berbeda tersebut ada kebenaran dari suatu sebab-akibat.

Semua mahluk katanya tidak akan pernah lepas dari alamnya dan memang terbukti bahwa semua mahluk hidup ditopang atas kemurahan alam untuk menjalani hidupnya. Tanah adalah salah satu bagian dari ekosistim dimana manusia sebagai satu diantara sekian banyak mahluk yang ditopang oleh alam. Makanya tak heran sampai ada yang mengatakan bahwa manusia terbuat dari tanah. Diluar manusia sebagai mahluk, maka binatang adalah mahluk yang sepenuhnya bergantung kepada kemurahan alam untuk dapat survive. Oleh karena sedemikian besarnya ketergantungan binatang terhadap alam maka setiap perubahan pada alam habitatnya menjadikan binatang begitu sensitip terhadap perubahan. Mereka tidak perlu berpikir untuk memutuskan sesuatu tindakan penyelamatan dirinya apabila ada sesuatu yang mengancam kehidupannya, dan kalau boleh mereka berbicara maka mereka akan berkata “alam telah berbicara pada saya”.

Sejak jaman purba, maka kegiatan binatang telah menjadi petunjuk bagi manusia untuk mengetahui apakah alam akan murka. Kemurkaan alam berupa gunung meletus, gempa bumi, banjir dan tsunami, akan selalu ditandai dengan kegiatan binatang yang diluar kebiasaan. Rusa masuk kampung, gajah memporak poranda kampung, harimau memakan manusia, tentu menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang salah yang akan membawa alam murka memuntahkan bencana. Manusia terutama jaman sekarang ini sudah sangat jauh meninggalkan alam sebagai penopang kehidupannya yang utama sehingga sensivitasnya untuk berkontak batin dengan alam sudah tidak lagi menjadi indicator baginya untuk mengetahui ada sesuatu yang salah sedang terjadi.

Kalau di Taput, rusa masuk kampung, gajah memporak poranda kampung, harimau memakan manusia dimana mereka meninggalkan habitatnya, tidak lagi menjadi pertanda bagi manusia untuk mengetahui sesuatu tentang alam karena mereka memang sudah lama tak ada, mungkin meninggal dan pindah? Manusia Tapanuli Utara bila dibandingkan dengan manusia di kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Medan, Batam, Jakarta, Bandung Surabaya, mungkin masih lebih sensitive kontak batinnya dengan alam. Apakah ini dapat dibuat sebagai indikasi adanya sesuatu yang salah di alam Tapanuli Utara sehingga jumlah penduduk yang hilang dalam statistiknya sebanyak 95% hanya dalam kurun waktu 20 tahun dari tahun 1984 sampai sekarang? Coba sama-sama kita cari jawabannya.

Back home again

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: