Nagogo i

Babiat

Babiat

Sudah lama kita tidak pernah mendengar adanya harimau datang kesekitar perkampungan penduduk di Tapanuli Utara. Tapi lain hal kali ini ada disaksikan masyarakat di Desa Manalu Purba Kecamatan Parmonangan Kabupaten Tapanuli Utara, bahwa mereka katanya sering diganggu oleh binatang yang dicurigai adalah harimau (Panthera tigris sumatrae). Lalu masyarakat membuat perangkap dengan jerat dan ternyata memang tertangkaplah seekor harimau jantan berukuran panjang 180 cm dan terlihat kurus. Diberitakan bahwa selama tahun 2007/2008 ada 7x harimau masuk dan mengamuk di kawasan perkampungan penduduk dan kejadian di Desa Manalu Purba ini baru pertamakali untuk tahun 2009.

Berita tertangkapnya harimau sumatra ini ditanggapi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan mengevakuasi harimau tersebut sementara ke Kebun Binatang Siantar untuk perawatan, setelah tertawan oleh penduduk selama sekitar seminggu. Peng-evakuasian harimau tersebut dikatakan mengalami kendala jalur transportasi yang harus ditempuh melalui jalur dari Tapanuli Tengah, namun berhasil dievakuasi tanggal 13 Maret 2009.

Harimau dalam bahasa Batak disebut babiat, namun  masyarakat Bangsa Batak sebenarnya menganggap bahwa harimau adalah mahluk mistis dan lebih sopan untuk menyebutnya dengan sebutan Nagogo i (mahluk kuat) atau bahkan disebut ompu i (empu = jelmaan sesaktian). Interaksi antara harimau dan manusia sejak jaman purba hanya terjadi dalam suasana mistis karena hariamu dianggap jelmaan yang sedang membawa pesan kepada orang-orang atau tempat yang didatanginya. Apabila ada suatu ketidak adilan yang sedang terjadi di suatu perkampungan, atau ada perseteruan perbatasan tanah ulayat antar kampung maka selalu diyakini adanya kehadiran harimau melalui jejak-jejak kaki langkah harimau. Diantara yang bertikai biasanya akan berdamai mematuhi bahwa jejak harimau akan disepakati sebagai batas yang syah atas kepemilikan masing-masing.

Ada juga sebuah cerita legenda atau mitos yang menjadi sejarah sebagian marga-marga Batak yang disebut Lontung. Secara singkat diceritakan disini berkaitan dengan kehadiran seekor harimau yang disebut sebagai Babiat Sitelpang.

Tersebutlah Seorang Pemuda bernama Saribu Raja dan adik kandungnya sendiri seorang putri bernama Siboru Pareme. Merka melakukan incest sehingga Siboru Pareme hamil. Mereka dibuang oleh warga secara terpisah ke dalam hutan belantara agar masing-masing berjauhan. Di dalam hutan belantara, Siboru Pareme didatangi seekor harimau yang pincang dan sedang meraung kesakitan sambil membuka-buka mulutnya. Pada awalnya Siboru Pareme merasa sangat ketakutan akan dimangsa oleh Babiat Sitelpang tetapi akhirnya dia tau bahwa Babiat Sitelpang sebenarnya sedang meminta tolong karena kesakitan ada tulang yang tersangkut di tenggorokannya. Dengan memberanikan diri Siboru Pareme mencabut tulang yang tersangkut tersebut dan legalah dia. Selanjutnya Babiat Sitelpang membalas budibaik Siboru Pareme dengan menghantarkan daging buruannya kepada Siboru Pareme sehingga dia dapat selamat bertahan di hutan belantara memelihara kehamilannya sampai melahirkan bayinya.

Bayi yang bertumbuh menjadi besar dan dewasa bernama Lontung hanya hidup berdua dengan Ibunya di hutan belantara. Di suatu ketika Lontung bertanya kepada ibunya dimana dia dapat bertemu dengan pariban (sepupu) putri tulangnya (paman), karena dia merasa sudah matang umur untuk berumah tangga. Kemudian Siboru Pareme mengarahkan Lontung ke suatu tempat dimana terdapat pemandian air pancuran dan mengatakan bahwa paribannya akan ada disana pada sore hari untuk mandi. Kemudian Siboru Pareme menegaskan lagi bahwa rupa paribannya tersebut sangat mirip dengan Siboru Pareme ibunya itu, lalu menganjurkan agar langsung menyapanya dan membawanya kerumah untuk menjadi istrinya. Dengan pengaturan rencananya maka Siboru Pareme berpesan akan pergi menjumpai Suaminya (ayah Lontung)yang sudah lama meninggalkan mereka dan dikesankan tidak akan berjumpa dengan Lontung dirumahnya.

Lontung mengunjungi paribannya sesuai pesan ibunya di tempat pemandian pancuran dan tanpa disadari Lontung bahwa ibunya yang mendahuluinya sudah tiba lebih dahulu dan sedang mandi di Pancuran. Lontung lalu menyapa paribannya -sebenarnya adalah ibunya sendiri- dan meyakinkan dirinya bahwa memang persis seperti ibunya. Lalu Lontung tanpa disadarinya sudah mengawini ibunya sendiri secara incest. Singkat cerita, merekapun melahirkan keturunan yang menjadi 7 marga batak dan 1 putri yang dipersunting oleh 2 marga batak.

Demikianlah salah satu versi legenda terbentuknya beberapa marga batak berkat interaksi manusia dengan harimau, sehingga bagi keturunan marga-marga Lontung, apabila berjumpa dengan harimau diyakini tidak akan dimakan oleh harimau, dan merekapun dengan hormat akan menyebutkan ompu (empu/kakek)

Melihat versi-versi interaksi harimau dengan manusia batak bahwa harimau dianggap sebagai mahluk mistis yang justru dianggap disegani, ditakuti yang bersifat melindungi manusia batak. Sentuhan modernisasi pada manusia batak sekarang ini sudah melupakan kultur kearifan lokal untuk saling menjaga interaksi harimau dengan manusia sehingga harimau hanya sebagai ancaman yang harus dibunuh? bukan untuk dilindungi.

Terjadinya intensitas interaksi harimau dengan manusia yang dianggap sebagai ancaman, tentu karena ada sebab akibat. Turunnya harimau dari habitatnya yang semakin sempit tentu karena keterbatasan pangan dihabitatnya. Kebutuhan manusi mungkin sudah bergeser bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan pangan akan tetapi binatang secara naluri harus membutuhkan pangan agar tidak punah. Naluri mencari makan keluar dari habitat yang paceklik pangan menjadikan harimau sebagai ancaman bagi manusia, dan dibunuhlah mereka, habislah mereka. Manusia dengan manusia saja sudah bunuh-bunuhan apalagi dengan binatang? Kita hanya bertanya yang mana harus didahulukan; perikemanusiaan atau perikebinatangan?

Berikut berita-berita tentang perseteruan manusia dan harimau sumatra yang berebut lahan, dipetik dari Surya Online:

24 Januari 2009: Raba’i bin Thalib (43), warga Desa Pematang Raman, Kecamatan Kumpe Ilir, Kabupaten Muarojambi, seorang pencari getah pohon jelutung tewas diterkam harimau sumatra. Peristiwa itu terjadi tengah malam sekitar jam 03:00 saat ia keluar pondoknya untuk buang air kecil.

4 Pebruari 2009: Seorang petani bernama Sutiyono (36), diterkam binatang buas itu sekitar pukul 22.10 WIB. Warga Desa Mekarsari Blok E, Kecamatan Kumpe Ilir, Kabupaten Muarojambi itu berhasil menyelamatkan diri namun mengalami luka akibat cakaran pada beberapa bagian tubuhnya. Dari keterangan korban kepada polisi, kejadian itu bermula pada saat Sutiyono hendak buang air besar ke belakang pondok dan pada saat itu tiba-tiba korban didatangi dan diterkam harimau. Ia berhasil menyelamatkan diri setelah duel yang diakhiri tendangan maut Sutiyono pada kepala binatang buas tersebut. Setelah harimau itu pergi, Sutiyono berlari ke pondoknya dan ditolong keluarganya dan warga. Sutiyono mengalami luka cakaran di tangan kanan, paha dan betis kanan.

2 Maret 2009: Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae), di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT), Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, mengamuk dan menerkam dua warga hingga tewas. Dua korban tewas itu bersaudara bernama Musmuliadi (31) dan Musliadi (30). Dengan bertambahnya dua korban tewas itu, berarti dalam dua bulan terakhir ini di Jambi (Januari-Pebruari 2009) tercatat telah sepuluh korban diterkam harimau diantaranya delapan tewas, dua korban luka.

16 April 2009: Sejak sepekan terakhir ini warga di Dusun Pulau Kembang, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, resah karena dua ekor harimau acap melahap ternak peliharaan mereka. “Kami sudah melapor keganasan harimau ini ke Polsek Batang Cinaku dan KSDA (Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam-Red),” ujar Sudaryono salah seorang warga Dusun Pulau Kembang, Desa Aur Cina, Kecamatan Batang Cinaku, Indragiri Hulu.

Katanya harimau sumatra sudah masuk kategori binatang yang dilindungi dan terancam punah dan masuk dalam daftar International Union Commission on Nature (IUCN) red list treatened species. Kalau ada penyerangan terhadap manusia oleh harimau tentulah karena terancam punah sehingga mencari mangsa diluar habitatnya yang semakin kecil.

 Tambahan rujukan Sumber: Jawa Pos

Back home again

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: