AKU ANAK TARUTUNG ORANG MELAYU ?

Ada sebuah acara semacam entertainment yang pernah ditayangkan di televisi Amerika Serikat, untuk sebuah nama atau istilah yang kira-kira luput dari perhatian warga umum di Amerika Serikat. Si pembawa acara menanyakan kepada masyarakat kebanyakan tentang apa yang mereka ketahui tentang istilah atau nama yang dipertanyakan. Banyak sekali variasi jawaban yang muncul dengan segala teori dan definisi yang dipaparkan oleh penjawab. Sebagai penonton, kita disuguhkan hiburan dengan banyak persepsi tentang masyarakat umum di Amerika Serikat. Kadang kita beranggapan bahwa warga Amerika Serikat itu banyak juga yang bodoh. Kita juga akan berasumsi bahwa sikap individualisme yang sedemikian tinggi di Amerika Serikat sehingga memperjelas bahwa warga umum di Amerika Serikat itu tidak sepintar yang kita bayangkan tentang pengetahuan umumnya.

Kita juga sering mendengar pameo yang mengatakan bahwa Indonesia terletak di Bali karena masyarakat di dunia luar sana lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Penulispun pernah mengalami hal yang sama ketika berada di Paris sekitar 12 tahun lalu bahwa sewaktu akan memasuki sebuah Night Club, sang penjaga menanyakan Negara asal. Sewaktu penulis mengatakan Indonesia, “Ouu… It’s part of Malaysia, right !”. Penulis hanya menjawab “yes…yes…yes !” yang penting masuk.

Bila kita bertanya kepada seseorang di luar Sumatra atau di Sumatra sendiri, semisal dengan pertanyaan berikut: “Apa yang anda ketahui dengan Tarutung?” Apa itu Tarutung ? Apakah sejenis makanan? Atau sejenis barang antique? Mungkin pertanyaan ini pula yang ditanyakan kembali oleh orang-orang yang jauh dari wilayah Tarutung sebagai satu kota di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. Kalau kita yang mengenal kata Tarutung sebagai nama sebuah kota Kabupaten maka langsung saja kita dapat menjawab bahwa Tarutung adalah nama sebuah kota yang menjadi Ibukota Kabupaten Tapanuli Utara yang terletak di Tanah Batak. Tetapi bila seorang yang berasal dari Tanah Batak boleh jadi akan menjawab bahwa benar tarutung adalah sejenis makanan yaitu nama buah durian yang dalam bahasa Batak disebut tarutung, karena memang nama Kota Tarutung menjadi nama resmi sebuah kota yang bermula dari penanaman sebuah pohon durian oleh Belanda di tahun 1877 sebagai tempat pasar rakyat yang kemudian menjadi Kota Tarutung sekarang ini. Pohon durian yang disebutkan itu masih tumbuh subur saat ini di tengah Kota Tarutung.

Tunggu dulu ! Ada juga seseorang mengaku berasal dari Tarutung menjadi bingung karena dia bukan orang Batak tetapi asli orang melayu. Dia tidak faham samasekali berbahasa Batak, atau tidak mengerti kultur Batak dan anehnya ngotot mengaku Anak Tarutung Orang Melayu? Anak Tarutung Siorang Melayu memang benar Anak Tarutung yang berasal dari sebuah desa bernama Desa Tarutung Kecamatan Batang Merangin Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi.

Adapula seorang Batak mengaku Anak Tarutung tetapi bukan dari Kabupaten Tapanuli Utara melainkan dari Kabupaten Madina. Dia ternyata berasal dari Desa Tarutung Panjang Kecamatan Naga Juang Kabupaten Madina. Tiba-tiba seorang lagi Batak mengaku dia yang Anak Tarutung karena dia berasal dari Desa Tarutung Kecamatan Penyabungan Barat Kabupaten Madina. Tak berhenti di situ muncul pula seorang lagi mengaku Batak Anak Tarutung yang berasal dari Desa Bandar Tarutung di Kecamatan Padang Sidempuan Barat Kabupaten Tapanuli selatan. Tidak hanya itu, datang lagi seorang Batak Anak Tarutung dari Desa Aek Tarutung Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan. Tak ketinggalan seorang Batak lagi Anak Tarutung yang memperkenalkan diri dari Desa Tarutung Bolak Kecamatan Sorkam Barat Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kalau begitu banyak juga orang Batak yang menjadi Anak Tarutung, bahkan Anak Tarutungpun orang Melayu juga. Menjadi timbul pertanyaan siapa sebenarnya Anak Tarutung? Apakah Anak Tarutung dari Kerinci? Apakah Anak Tarutung dari Madina? Apakah Anak Tarutung dari Tapanuli Selatan? Apakah Anak Tarutung dari Tapanuli Tengah? Apakah Anak Tarutung dari Tapanuli Utara? Kalau penulis hanya mengakui Anak Tarutung ya orang Batak yang ada di Kota Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara soalnya masih ada buktinya di sini.

Terlepas dari penamaan tarutung sebagai nama tempat seperti kota atau desa-desa yang mengambil nama Tarutung mungkin punya sejarah-sejarahnya sendiri. Kalau Kota Tarutung sudah berusia 132 tahun, mungkin desa-desa yang mengambil nama Tarutung juga dibentuk atau dinamai oleh penduduknya yang berasal dari Tarutung, karena orang Batak memang sudah terkenal sebagai perantau dengan prinsip dimana kaki berpijak dan dimana langit dijunjung maka itulah kampung halamannya. Makanya jangan heran kalau banyak orang-orang Batak yang sudah melupakan kampung halamannya dan bahkan tidak mengakui bahwa dianya juga Batak karena alas an-alasan tertentu. Apalagi bila kampung halamannya tersebut sudah menjadi peta kemiskinan atau bentuk merek lain, maka syah lah orang-orang Tarutung dulu yang merantau kemana-mana sudah melupakannya. Mungkin hanya namalah yang mereka tinggalkan sebagai identitasnya.

Kalau begitu, Tarutung sudah selayaknya menjadi terkenal seperti buah durian yang sudah dikenal dimana-mana. Apa benar demikian? Apa pula gunanya memperkenalkan Tarutung? Kalau sebuah produk tidak dibarengi dengan promosi maka produk tersebut tidak akan laku dijual. Dalam ilmu menejemen moderen bahwa promosi termasuk dalam komponen modal, maka apabila Tarutung tidak bermodal untuk mempromosikan diri tertinggallah dia selamanya.  Apa modal yang layak ditawarkan oleh Tarutung untuk langsung jadi? Menjadi kawasan atau jalur perdagangan? No way !, Menjadi Kawasan Perkebunan? No way at all, Menjadi potensi utama pertanian ? It takes a long time. Menjadi Kawasan wisata ? Not very competitive, Lalu apa dong ? Jawabnya hanya harus menjadi Kota Energy. Ini satu-satunya jalan pintas untuk mengambil kesempatan yang ada.

Indonesia sudah mencanangkan untuk memanfaatkan geothermal dikonversi menjadi energy listrik sebesar 10.000 MW. Sudah kah Tarutung masuk dalam peta program pemerintah ini? Mungkin sudah untuk porsi kecil yang hanya membangun beberapa puluh megawatt saja. Kenapa bisa begitu? Ribuan megawatt energy listrik yang dikonversi dari geothermal yang ada di Tarutung sebenarnya sudah terdata kemampuannya, dan kelayakannyapun lebih memungkinkan disbanding daerah lain. Apakah kesempatan ini harus beralih ke Sorik Marapi, Sampuraga, Roburan di Madina yang temperature panasnya masih relative lebih rendah dari yang ada di Tarutung? Dituntut kecerdasan Anak Tarutung untuk mempromosikan dirinya mengambil peluang, ayo kawan!

Pemerintah secara nasional tentu akan mengambil langkah yang bersifat pemerataan kesempatan pembangunan di daerah-daerah yang potensial. Jangan lantas berdiam diri saja menunggu hujan turun dari langit. Kalau pemetaan program pembangunan geothermal sebagai pembangkit listrik di Tarutung mendapat porsi yang kecil, mengapa tidak diambil peluang otonomi daerah untuk bernegosiasi langsung dengan perusahaan-perusahaan raksasa yang banyak bertebaran diluar sana? Ajak saja dulu ! Bicarakan peluangnya dulu ! Lalu minta dukungan Pemprov dan Pusat dan Pertamina, PLN, kan jadilah itu.

Mental bisnis memang masih diperlukan oleh Anak Tarutung. Mental raja cukuplah dipakai di pesta adat perkawinan. Janganlah Tarutung hilang dalam peta dan lebih tragis lagi kalau Anak Tarutung menjadi Orang Melayu.

Back home again

Tags: , , , , , ,

2 Responses to “AKU ANAK TARUTUNG ORANG MELAYU ?”

  1. zul azmi sibuea Says:

    saya kutip “penanaman sebuah pohon durian oleh Belanda di tahun 1877 sebagai tempat pasar rakyat yang kemudian menjadi Kota Tarutung sekarang ini” dari alinea 3 karangan diatas.

    pernyataan ini perlu dicek ulang karena, penyebutan tarutung bukan karena dipasar itu ditanam belanda pohon durian, jauh sebelum menjadi pasar tempat itu adalah “persinggahan” pedagang dari tanah batak kearah tepi laut, membawa barang dagangan berupa hasil hutan seperti haminjon, dan ditukar dengan garam ditepi laut atau sibolga.

    tempat beristirahat dasn persinggahan itu teduh, rimbun dan nyaman dibawah sekelompok pohon “tarutung” sehingga makin hari semakin ramai dikunjungi banyak orang baik untuk menjual maupun membeli, karenanya terjadilah pasar. kejadian ini sudah berlangsung jauh sebelum belanda datang, jauh sebelum belanda pertama masuk di indonesia.

    pemberian nama tarutung sudah ada sebelum belanda datang, jika pada tahun 1877 belanda menanam durian ditempat atau dipasar itu, ini adalah untuk mengukuhkan penamaan tempat itu yang sebelumnya juga sudah disebut “Tarutung”

  2. Maridup Says:

    Terima kasih bung Zul Azmi Sibuea atas tanggapannya. Untuk memperkaya informasi tentang pohon tarutung dan kota Tarutung, boleh juga bung membaca artikel di situs ini juga berjudul ‘Tarutung Sibuah Durian’. Tambahan lainnya boleh juga coba dibuka situs pemkab taput atau link-nya ada juga di situs ini.

    Memang adabenarnya juga yang bung sebutkan bahwa Kota Tarutung sekarang sudah ramai perdagangan jauh sebelum adanya sebutan Tarutung sebagai kota, dan namanya belum disebut Tarutung. Pasar yang dimaksud itu adalah disebut Onan Sitahuru, yaitu 3 km arah Sibolga dari Kota Tarutung sekarang. Onan tersebut berlangsung dibawah pohon beringin, bukan pohon durian (tarutung). Pohon beringin itu masih ada sampai sekarang, kalau tak salah dekat dengan pemandian ‘Aek Soda’.

    Jauh sebelum Silindung diporakporandakan Paderi semasa Perang Saudara tahun 1818-1820 (di utara) sudah ramai pasar itu. Perlu bung Zul ketahui bahwa pelaksanaan pasar di Tanah Batak pada abad-16-17 dilakukan 4 tahapan dalam 1 minggu yang mencakup daerah pesisir sampai ke pedalaman. Tahapan terakhir adalah berada di pesisir pantai sebut saja di teluk Tapian Nauli yang langsung berhubungan dengan pedagang dari luar Tanah Batak termasuk pedagang Internasional yang datang dari berbagai penjuru awalnya dari Gujarat, Persia, Arab, kemudian berlanjut semasa datangnya orang-orang Eropah mulai dari Portugis, Belanda, Perancis, Inggris.

    Belanda baru masuk ke Silindung adalah setelah mengalahkan Paderi di tahun 1837 kemudian berlanjut masuknya evangelisasi kristen baik yang datang dari Angkola, Sipirok, yang kemudian bercokolnya Nomensen tahun 1864 di Silindung, dan saat itu namanya belum Tarutung. Jadi penamaan kota Tarutung memang berasal dari penanaman pohon Durian yang ada di tangsi sekarang.

    Mau jelas lagi cerita tentang Silindung ini (sekarang ibukotanya Tarutung) boleh membacanya dari buku The History of Sumatra yang dikarang oleh William Marsden dan diterbitkan tahun 1811, dan terjemahannya boleh dibaca di situs ‘Batak One’ di http://batakone.wordpress.com. Pasti bung Zul Asmi Sibuea akan puas.

    Demikian bung Azmi, jadi artikel ini tidak perlu di cek lagi. HORAS ma da kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: