GEROBAK

(Gerombolan Orang Batak)

Massa Warga Tapanuli Tengah pendukung Protap. Massa Pendukung Protap disebut 'Gerombolan' oleh M.Hanafiah Harahap, anggota DPRD Sumut.

Massa Warga Tapanuli Tengah pendukung Protap. Massa Pendukung Protap disebut 'Gerombolan' oleh M.Hanafiah Harahap, anggota DPRD Sumut.

Pada sekitar tahun 60-an sampai 70-an di Kota Medan masih banyak berkeliaran alat pengangkutan, khususnya angkutan barang yang ditarik oleh seekor kerbau yang disebut ‘Gerobak’. Biasanya Gerobak digunakan untuk mengangkut bahan material bangunan dari toko material yang kalau di kota Medan disebut ‘Panglong’. Dan biasanya Gerobak ini di-sais-i oleh orang keturunan India (Tamil). Masih terkenang dibenak bahwa gerobak banyak digunakan untuk mengangkut jejalan manusia yang akan melakukan pencoblosan pada pemilu 1971 yang diikuti oleh 10 partai (Partai Katolik, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Nahdatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia, Golongan Karya, Partai Kristen Indonesia, Partai Musyawarah Rakyat banyak, Partai Nasional Indonesia, Partai Islam PERTI, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) dan umumnya dilakukan terbuka di Lapangan Sepak Bola yang masih banyak bertebaran di Kota Medan pada masa itu. 

Gerobak yang dimaksudkan itu, kini sudah digantikan oleh kendaraan niaga yang disebut ‘Pick-up”, dan fungsinya sama seperti dahulu dengan variasi jenis yang diangkut sudah sangat beragam sesuai perkembangan jaman dimana Indonesia sudah menjadi Negara moderen yang boleh disetarakan dengan Amerika Serikat atau India dalam hal demokrasi, namun istilah ‘Gerobak’ memang sudah lama ditinggalkan. 

Pada tahun 80-an kebetulan lamaran beberapa orang Batak diterima untuk ujian masuk kerja disalah satu perusahaan besar BUMN yang menjadi idola semua lulusan perguruan tinggi sehingga hampir semua peserta ujian berasal dari seluruh perguruan tinggi terkenal di Indonesia. Dari ratusan peserta ujian harus bersaing menjadi 10 besar karena yang diterima hanya 10 posisi saja. Ternyata 4 dari 10 yang diterima adalah orang Batak dari Sumatra Utara. Salah seorang bermarga Harahap menamakan kelompok ini ‘Gerobak’ untuk penamaan berdasarkan singkatan kata ‘Gerombolan Orang Batak = Gerobak’. Inilah istilah Gerobak yang ingin dikemukakan di artikel ini. 

‘Gerombolan’ adalah kosa kata dalam bahasa Indonesia yang diartikan berkonotasi negative karena selalu dipakai untuk kelompok yang melakukan perbuatan menyimpang atau istilah lain untuk menyatakan kelompok binatang, seperti istilah GPL (Gerombolan Pengacau Liar) atau gerombolan sapi liar seperti yang terdapat di Taman Serengeti di Afrika sana. Anehnya istilah ‘Gerombolan’ ternyata tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, jadi istilah ini secara resmi memang tidak dikenal dalam pengistilahan formal di Indonesia. 

Berkaitan dengan kasus PROTAP yang menghebohkan dunia perpolitikan di Indonesia, karena masyarakat sebuah wilayah yang menginginkan aspirasinya terbentuk dalam sebuah pemerintahan  propinsi ternyata mendapat hambatan sistimatis dari orang-orang, kelompok, institusi, sehingga menimbulkan peristiwa yang mengakibatkan seorang Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat meninggal dunia karena penyakit jantung dalam aksi demo masyarakat Protap di Geding DPRD Sumatra Utara pada 3 Pebruari 2009 yang lalu. Peristiwa ini berbuntut menjadi penangkapan 70 orang para aksi demo yang dituduh sebagai pembunuh yang disebut wakil rakyat almarhum Abdul Azis Angkat, dan mereka menghadapi persidangan untuk menerima hukuman. 

Salah seorang terdakwa Christian Manurung  sedang menjalani persidangan pada tanggal 9 Juni 2009 di Ruang Cakra VII Pengadilan Negri, Medan oleh Majelis Hakim yang diketuai oleh Pratondo SH. Pada saat itu Christian Manurung didampingi oleh Penasihat Hukum Adardham Achyar, SH dari Jakarta yang menengarai kasus ini agar menjadi adil dimata hukum. Saksi yang diajukan dalam persidangan ini adalah katanya wakil rakyat M. Hanafiah Harahap, anggota DPRDSU dari Fraksi Golkar. Dalam kesaksiannya,  M. Hanafiah Harahap selalu mengatakan bahwa massa pendukung Protap adalah ‘Gerombolan’ sehingga penasihat hukum Adardham Achyar, SH meminta Majelis Hakim agar M. Hanafiah Harahap tidak mengistilahkan ‘massa pendukung Protap’ dengan istilah ‘Gerombolan’. 

Dalam persidangan terungkap berdasarkan pengakuan saksi M. Hanafiah Harahap bahwa dia ‘tidak melihat Abdul Azis Angkat dipukuli massa’. Pada persidangan itu terungkap pula bahwa Christian Manurung hanya menyuarakan yel-yel “Hidup Protap…”, “Hidup Protap..”, “Hidup Protap…” harus menjadi tersangka sebagai pembunuh Abdul Azis Angkat. 

Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk saling memahami apa yang sedang dibicarakan. Indonesia sebelum merdeka sudah menyatakan tekat untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang diprakarsai pemuda dalam Sumpah Pemuda 1928. Kalau yel-yel “Hidup Protap…”, “Hidup Protap..”, “Hidup Protap…” diartikan dalam bahasa hukum oleh masyarakat menjadi “…bunuh Abdul Azis Angkat…” yang kebetulan memang meninggal pada saat itu, maka apajadinya hukum di Indonesia. 

Dikepala M. Hanafiah Harahap memang sudah terpatri bahwa ‘massa pendukung Protap’ adalah ‘Gerombolan’. Ini terbukti pada kesaksiannya di persidangan tersangka Gelmok Samosir yang diketuai oleh Majelis Hakim Sutadi pada persidangan hari Selasa 23 Juni 2009. Terdakwa Gelmok Samosir yang didampingi oleh Penasihat Hukum Adardam Achyar SH MH, Remy Arriza Balaga SH MH, dan Drs Kardi Sinaga SH selalu mengingatkan agar M. Hanafiah Harahap tidak menyebut ‘Gerombolan’ kepada ‘massa pendukung Protap’ namun tak pernah diindahkan sehingga terjadi kericuhan. 

Menyikapi dua persidangan dimana M. Hanafiah Harahap menjadi saksi bahwa istilag ‘Gerombolan’ bagi ‘massa pendukung Protap’ sudah menjadi istilah baku. Kita tidak mengetahui pasti apakah istilah ini memang sudah menyebar secara umum dikalangan masyarakat yang menolak Protap, dan istilah ini begitu melekat dalam diri M. Hanafiah Harahap sebagai seorang wakil rakyat tentu dapat diasumsikan bahwa rakyatnya juga sudah mengaminkan istilah ini menjadi istilah baku dikalangan mereka. Oleh karena itu, dapatlah disimpulkan bahwa semua orang yang ikut mendukung berdirinya Propinsi Tapanuli (Protap) baik yang menjadi terdakwa maupun yang tidak terdakwa diluaran sana dianggap sebagai ‘Gerombolan’ oleh M. Hanafiah Harahap. Mudah-mudahan apabila Protap menjadi propinsi yang syah di negri ini tidak menjadi diistilahkan sebagai propinsi gerombolan.

Back home again

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: