Ada Apa Dengan “Jesus”?

Sebenarnya sudah lama penulis berkeinginan untuk menuliskan sesuatu tentang “Jesus”, namun selalu tertunda oleh berbagai sebab dan terkadang ada ketakutan karena memang pernah ada diberitakan bahwa dua orang pastor ditangkap di Norwegia hanya karena akan menyuarakan tentang Jesus pada sebuah parade perayaan. Kedua pastor bahkan belum sempat menyampaikan orasinya dan hanya memegang papan tanda yang bertuliskan “Hanya Jesus yang dapat menyelamatkanmu dari neraka, bacalah Alkitab untuk lebih detailnya.” 

Berita ini dapat and abaca di WorldNet Daily Edisi Mei 2008  atau Edisi April 2009 . Anda juga dapat melihat video kejadiannya melalui You Tube-1   dan You Tube-2  ini. Kedua pastor ini ditangkap dan kini kasusnya sudah ditangani oleh Kelompok Internasional Hak Azasi Manusia (International Human Right Group = IHRG) untuk diajukan di Persidangan Hak Azasi Manusia Eropah.  

Terkadang perbuatan Jesus tak dapat ditolerir apalagi sebagai seorang petinggi institusi keagamaan yang kedapatan bertelanjang bulat bersama 2 sahabatnya sedang melakukan perbuatan mesum disebuah halaman belakang rumah yang sudah ditinggal oleh penghuninya.   

Kejadian memalukan lainnya terjadi ketika Jesus menjadi tertuduh melakukan pelecehan seksual kepada gadis dibawah umur. Kejadian ini terungkap ketika seorang gadis kecil berusia 12 tahum mengadu kepada ibunya bahwa Jesus sudah berulangkali melakukan pelecehan seksual kepadanya yaitu dengan menciumi mulutnya, lehernya, buah dadanya, walaupun gadis kecil itu pernah menolak dengan mengatakan bahwa dia masih anak belia berumur 12 tahun.  

Tidak hanya itu, Jesus melakukan penyerangan seksual dan bahkan percobaan pembunuhan. Perlakuan Jesus dengan cara mengancamkan pisau kemulut dan melakukan sodomi lalu mencoba untuk memperkosa. Yang menggegerkan adalah terungkapnya bahwa Jesus memiliki ibutiri dan ibu tirinya inilah yang dicobanya untuk diperkosa 

Sangat disayangkan bahwa akhirnya Jesus mati. Sebelum kematiannya, banyak cerita simpang siur yang berkembang. Beberapa orang terdekatnya dikatakan terlibat langsung dibalik kematiannya. Ada cerita yang mengatakan bahwa dia diculik oleh sahabatnya sendiri dan itulah hari terakhirnya. 

Cerita di atas memang benar terjadi namun kalau pembaca tidak jeli bahwa cerita di atas merupakan penggal-penggal berita dari beberapa kejadian yang berbeda dan dirangkai sedemikian rupa sehingga kejadiannya seolah-olah hanya dari satu kejadian. Kalau seorang pembaca lantas mengambil berita ini sebagai satu cerita utuh dari satu sosok “Jesus” maka berita ini akan menjadi cerita yang memicu issu penghinaan terhadap “Jesus” yang dikalangan umat Kristiani adalah sebagai “Tuhan”, atau dikalangan Islam adalah sebagai figur nabi yang disebut sebagai “Isa AS”. 

Oknum “Jesus” dalam cerita diatas adalah oknum-oknum yang membawakan potongan namanya sebagai “Jesus”. Penulis membawakan artikel ini sebagai gambaran yang banyak muncul dibeberapa situs yang mempertentangkan keburukan-keburukan atau perbedaan-perbedaan antar faham agama, menjadi issu yang dipertentangkan oleh pengunjung yang belum tentu memahami sepenuhnya nafas kebaikan dari agama yang dianutnya, atau kebaikan sebagai inti dari pengajaran agama yang dianut oleh orang-orang yang berseberangan faham dengan dirinya. Belum lagi apabila berita diatas di ambil utuh oleh penganut agama yang berseberangan, dan dibawakan atau menjadi kebenaran kehidupan “Jesus” yang sebenarnya, maka terjadilah perdebatan yang melantur kemana-mana menjadi sebuah issu permusuhan. 

Tidak jarang pula para penganut fanatis Kristen dan Islam yang berdebat adalah terdiri dari orang-orang yang memiliki pengetahuan kelas tinggi tentang ilmu agamanya masing-masing tetapi sangat jelas tergambar bahwa mereka tidak memiliki keimanan yang setara tingginya dengan ajaran yang dianutnya berdasarkan ilmu agama yang dianutnya itu, maka terjadilah perdebatan yang justru tidaklagi menggambarkan nuansa agama (agama apapun itu), bahwa agama adalah sesuatu faham yang mengajarkan manusia menjadi manusia yang lebih baik, dan bukan mengajarkan manusia menjadi ‘binatang’ yang lebih rendah derajatnya. 

Muncul cemooh, muncul cacimaki, muncul saling hina, dan banyak bermunculan bahasa-bahasa yang keluar dari norma-norma beradab, dan karena sedemikian intens diungkap mengenai sisi buruk dari agama-agama yang dipertentangkan maka agama itupun kehilangan makna. Ternyata agama bukanlah menjadi alat untuk menuju kebenaran dan kedamaian malah agama telah menjadi alat untuk memicu perseteruan dan bahkan peperangan. Terbongkarlah bahwa agama telah menjadi alat yang diciptakan oleh manusia seumpama pedang bermata dua yang setiap saat dapat saja dipakai untuk meniadakan unsur tuhan ada didalamnya. 

Kalau memang agama sudah tidak lagi dapat menjadi sebuah sisi terang bagi umat manusia untuk membawakan pemahaman ketuhanan sebagai unsur tunggal yang absolute, maka agama hanyalah bagian dari ilmu pengetahuan yang sangat jauh tertinggal dari pemahaman moralisme bagi mahluk yang beradab. Agama hanyalah sebuah tombak, pedang, pistol, atau alat pemusnah yang setiap saat dapat saja dipakai untuk meniadakan sesama manusia, atau sebagai alat pembenaran untuk saling meniadakan sesama ciptaan Tuhan. Lalu siapa yang layak kita persalahkan sebagai tertuduh? Apakah figur-figur yang ada pada cerita agama itu yang menjadi otak pelakunya? Ataukah manusia-manusia yang menggunakan agama itu yang menjadi terdakwa? Jawabannya ada pada anda yang mutlak untuk mewakili siapa anda dimata agama anda.

Back home again

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: