Protap Dimata Saya ‘BIMBANG’

Perjalanan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) kalau dirunut akan ada miripnya dengan peristiwa terbentuknya Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 dimana sangat banyak peristiwa penting, tarik menarik, intrik-intrik antara kelompok yang merasa berkepentingan.

Apabila kita mencoba untuk membanding-bandingkannya maka peristiwa pembentukan Protap Dimata Saya BIMBANG dapat dipaparkan sebagai berikut:

BABAK PERTAMA:

Menit Pertama:

Pergerakan pemuda di tahun 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda adalah ide awal untuk berjuang agar Indonesia bersatu mengurusi bangsa sendiri dalam satu bentuk Negara Indonesia. Pergerakan selanjutnya adalah perjuangan-perjuangan untuk terlepas dari kemelaratan sebagai bangsa terjajah. Dalam konteks ke-Indonesia-an tentu tidak pernah tersebut bernuansa ras bangsa misalnya terhadap Malaysia sekarang yang juga sama-sama terjajah.

Ide pemekaran propinsi di Sumatra Utara sebenarnya sudah dimunculkan pertamasekali di tahun 1957 oleh Ketua Seksi-B DPRD Propinsi Sumatra Utara A.N.P. Situmorang yang membagi Sumatra Utara menjadi 3 propinsi dengan pertimbangan dapat meningkatkan perekonomian yang lumayan. Kalau dalam konteks ke-daerahan- tentu tidak ada tersebut bernuansa tribalisme apabila terbentuk propinsi eks Residen Tapanuli, eks Residen Airbangis, eks Residen Sumatra Timur.

Menit Kedua:

Perang Dunia kedua (PD-II) yang berkecamuk menyedot segala sumber daya dari Indonesia. Jepang yang menjajah setelah sebelumnya dijajah oleh Belanda telah memelaratkan rakyat Indonesia sampai kepada titik nadir terbawah. Peristiwa Hirosima dan Nagasaki menjadi kesempatan yang baik untuk mewujudkan perjuangan yang selama ini sudah diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan seperti pergerakan Pemuda dan lain-lainnya. Berakhirlah Perang Dunia kedua (PD-II).

Perang Pamor pertama (PP-I) yang dijalankan oleh Soekarno untuk membangun Indonesia merupakan penjajahan ekonomi rakyat di seluruh daerah Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan penjajahan ekonomi rakyat oleh Rejim Soeharto selama Perang Pamor kedua (PP-II) dengan 5 x Repelita sehingga semua potensi daerah tersedot secara terpusat untuk pembangunan di pusat pemerintahan. Terjadinya Era Reformasi dengan merebaknya kerusuhan 13 Mei 1998 menandai runtuhnya Regim Soeharto dan berakhirlah Perang Pamor kedua (PP-II).

Menit Ketiga:

Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan pembacaan text oleh Soekarno dan ditandatangani berdua dengan Mohammad Hatta adalah wujud perjuangan segala komponen bangsa yang terdiri dari berbagai macam ragam latar belakang etnis dan agama menyatukan tekat untuk menyatakan merdeka dari penjajahan. Penjajahan yang dimaksud adalah bekas jajahan Belanda yang kemudian dijajah oleh Jepang, sementara bekas jajahan Inggris (diluar Indonesia sekarang) tidaklah menjadi objek pemikiran karena memang sejak pergerakan kemerdekaan tidak pernah ada hubungan yang sejalan dengan mereka walaupun satu rumpun dan bahkan semua penduduknya memang berasal dari Indonesia sekarang.

Ide pembentukan Protap dideklarasikan pada tanggal 6 April 2002 di Tarutung dengan dukungan dari 10 Kabupaten eks Ressiden Tapanuli (diluar eks Residen Airbangis) semasa Penjajahan Belanda. Masyarakat Tapanuli dari berbagai sub-etnis bekas Keresidenan Tapanuli sudah membulatkan tekat untuk pembentukan propinsi ini karena sejak jaman merdeka mereka tetap tertinggal disegala bidang maka sudah saatnya bersatu mendeklarasikan pembentukan Protap. Sama seperti perjuangan rakyat Indonesia dari berbagai etnis telah mengalami penderitaan selama penjajahan.

Menit Keempat:

Indonesia merdeka bukan sertamerta membuat perjuangan kemerdekaan dapat berjalan mulus walaupun kemerdekaan didukung atas semua suara rakyat Indonesia. Kekalahan perang Jepang oleh Sekutu dalam PD-II di Indonesia harus pula diikuti dengan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang di Indonesia. Maka masuklah 6000 personil Allied Force Netherland East Indies (AFNEI) yaitu pasukan sekutu khusus untuk Indonesia setelah PD-II yang dikomandoi oleh Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby seorang Brigjrn Inggris dari divisi 49 India. Ternyata pasukan ini disusupi oleh tentara NICA yaitu tentara penjajah Belanda yang masih ingin menjajah Indonesia. Timbul lagi konflik antara Indonesia dan Belanda yang kemudian terjadi Perjanjian Linggarjati dimana pengakuan terhadap Indonesia hanya untuk Sumatra, Jawa, dan Madura.

Prakarsa pembentukan Protap yang sudah ditekatkan oleh 10 kabupaten telah sampai kepada Mendagri Hari Sabarno tetapi ada bentuk kajian yang membonceng yang katanya kajian ilmiah yang ternyata hanyalah sebuah desertasi doctoral di tahun 1972 oleh seorang bernama Lance Castles yang diberi judul Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940, yang ikut terbonceng itu adalah seorang pakar bernama Basyral Hamidy Harahap yang disinyalir sebagai pro-kemapanan di Sumatra Utara, dimana kemudian mempengaruhi Mendagri Harisabarno untuk menegaskan bahwa Protap tidak akan diproses.  Banyak bermunculan pendapat kontra dari kalangan intelektual yang pro-kemapanan sehingga banyak pula terjadi silang pendapat di masyarakat Sumatra Utara yang berujung kepada beberapa kabupaten manarik dukungan dan menolak ikut pada pendirian Protap.

Menit Kelima:

Kekisruhan perpolitikan di Indonesia di awal kemerdekaan yang seharusnya sudah harus saling mendukung untuk menuju kesejahteraan rakyat yang dicita-citakan dalam Pancasila dan UUD’45 ternyata menjadi kesempatan bagi kelompok yang berseberangan dengan falsafah itu yaitu NII (Negara Islam Indonesia) dengan aksi-aksi yang disebut DI/TII. Kegerahan Soekarno dengan gerakan radikal Islam ini menguatkan pemahamannya tentang sebagian kelompok Islam garis keras seperti apa yang dia sebut “Islam Sontoloyo” dalam bukunya Dibawah Bendera Revolusi. Situasi perpolitikan yang carutmarut serta perekonomian yang mengalami krisis sehingga Soekarno dicurigai ada bersanding dengan PKI sehingga dia tersandung dengan istilahnya Nasakom. PKI memang banyak berjuang selama masa pergerakan melawan penjajah Belanda dan ikut pula berjuang membentuk Negara RI. Awalnya mereka membaur dalam Syarikat Islam kemudian berpisah membentuk partai sendiri dan menjadi partai terbesar disekitar tahun 1960-an.

Seorang bernama DN Aidit (Dipa Nusantara Aidit) yang terlahir dengan nama Achmad Aidit menjadi figure yang sangat menonjol semasa pengaruh PKI sedemikian besar di Indonesia. Tak kurang seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, Moh. Yamin adalah sahabat karibnya, dan dia adalah Ketua Komite Pusat Partai Komunis Indonesia. Kemapanannya di Republik ini menjadi sandungan bagi para pejuang yang ingin memajukan rakyat Indonesia dari kemelaratan. Maka di tahun 1965 dia ditembak mati oleh Kostrad di boyolali sewaktu dia berkoar-koar dimasa kemapanannya menghambat demokrasi di Negara Republik ini.

Perjuangan Protap yang sudah ditinggal oleh sahabat-sahabatnya dari beberapa kabupaten yang dulu sama-sama sebagai Protap, masih tetap memperjuangkan semaksimal mungkin walaupun dibawah tekanan-tekanan yang pro-kemapanan baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional. Kekisruhan pembentukan Protap dimanfaatkan kelompok yang memang tidak menyetujui berdirinya Protap dan kemudian malah medeklarasikan Propinsi Tapanul Bagian Barat atau bagian selatan atau Propinsi Sumatra Tenggara dan merangkul kabupaten yang dulunya mendukung Protap menjadi berbalik berkomplotan membentuk propinsi baru itu, walau akhirnya sebagian kabupaten itu tidak diterima bergabung seperti Kab. Nias, Kab. Nisel.

Persyaratan yang dituntut dalam pembentukan Protap yang sudah beberapakali terjadi perubahan hampir seluruhnya terpenuhi. Dari 25 pra-syarat yang dibutuhkan telah terpenuhi sebanyak 23 persyaratan dan tambahan yang belum adalah persetujuan Gubernur Sumatra Utara dan DPRD Sumatra Utara. Gubernur Sumatra Utara memang melihat kenyataan dimasyarakat dari beberapa kabupaten tersisa tetap pada pendiriannya dan semuanya mendukung, tentusaja gubernur menyetujui dan menandatangani persyaratan ke-24. Namun Gubernur Syamsul Arifin mendapat kecaman keras dari kelompok yang tidak menyetujuinya yang notabene sudah mendeklarasikan propinsi baru sebagai tandingan. Prinsip yang wajar seharusnya kalau tidak mendukung tentu jangan pula menghambat aspirasi rakyat yang bukan kelompoknya, tetapi demikian kerasnya tekanan politik yang menghambat pembentukan Protap.

DPRD adalah pusat aspirasi rakyat di daerah yang harus mensikapi kepentingan rakyat walaupun itu bukan dianggapnya rakyatnya secara langsung. Banyak anggota DPRD yang mendukung pembentukan Protap kalah pamor dengan arus kemapanan yang ada di DPRD-Sumut. Drs. H. Abdul Aziz Angkat asal Pakpak Bharat adalah figure Ketua DPRD-Sumut yang diharapkan mendandatangani persyaratan ke-25 (terakhir) agar terwujut aspirasi rakyat dalam pembentukan Protap. Kenyataannya bahwa Drs. H. Abdul Aziz Angkat pernah berkoar dengan mengatakan bahwa tidak satu pun pemegang hak ulayat di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat yang mau bergabung dengan Provinsi Tapanuli, ini merupakan pernyataan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan persetujuan menandatangani persyaratan ke-25 itu karena kalau Kab. Dairi dan Kab. Pakpak Bharat tempat asalnya itu tidak bersedia bergabung, adalah hal yang wajar, tetapi bukan pula menjadi penghambat persyaratan yang harus disetujuinya untuk aspirasi masyarakat yang terbentuk dalam Protap sebagaimana dia mewakili semua aspirasi rakyat.

Pada persidangan paripurna DPRD tanggal 3 Pebruari 2009 ternyata masalah Protap memang tidak dimasukkan dalam agenda rapat, dimana massa yang menunggu persetujuan itu sudah menanti dengan harapan gembira terbentuknya Protap yang mereka idamkan. Drs. H. Abdul Aziz Angkat dinyatakan meninggal dunia karena sakit jantung sebelum rapat paripurna tersebut berlangsung dalam suasana demo oleh masyarakat Protap.

BABAK KEUA:

Lima menit titik pandang yang disebutkan di atas tidaklah menggambarkan secara mendetail tentang polemik yang mengemuka sekitar pembentukan Protap. Tetapi ada yang mengganjal dalam pemikiran tentang silang pendapat yang muncul pada masyarakat, baik di masyarakat umum, masyarakat intelektual, maupun pada masyarakat politik, bahwa Protap bukan bersifat SAR ‘SARA’ (Suku-Agama-Ras) adalah sesuatu hal yang sulit difahami dengan akal sehat.

Kalau kita mau mendalami sejarah panjang tentang Batak-Islam-Melayu-Belanda-Agama-Negara-Globalisasi (BIMBANG) memang kita sudah harus merasa bimbang tentang kelangsungan NKRI dikemudian hari apabila penjajahan karakter masih subur dipelihara. Mengapa harus membedakan antara Islam dan Agama dalam kata singkatan BIMBANG, karena memang Islam sudah menggambarkan ikon Indonesia sebagai Negara yang berpenduduk Islam terbanyak di dunia walaupun Indonesia masih menganut faham demokrasi dalam pemerintahannya. Sementara kata ‘Agama’ dalam kata BIMBANG sudah jelas terfokus kepada agama-agama minoritas (5 agama lainnya) yang diakui oleh undang-undang diluar agama Islam dan agar lebih jelas pula pemaparan kecurigaan terhadap adanya perlakuan SAR pada pendirian Protap.

Batak (Batta) sebenarnya adalah satu kata untuk sebuah bangsa yang pernah tercatat oleh kekaisaran Roma semasa Kaisar Titus berkuasa di awal millennia abad pertama. Pencacahan bangsa-bangsa, geografi, flora dan fauna dicatatkan oleh bangsa Roma dalam sebuah buku berjudul ‘Natural History’ oleh Pliny yang dihadiahkan kepada Kaisar Titus di tahun 77 Masehi, menjadi bukti sejarah bahwa bangsa Eropa sudah mengenal Batak termasuk Semenanjung Malaya sebagai lokasi geografis terluar dari Asia yang mereka kenal. Mereka belum mengenal yang disebut sub-etnis Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Simalungun, Karo, Dairi, Pakpak, Singkil, Kluet, Gayo, Alas, Melayu, tetapi mereka mencatat Batak (Batta). Mereka juga hanya mencatat nama Semenanjung Malaya dan tidak menyebutkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan lain-lain yang memetakan geografi. Mungkin nama suku-suku yang ada di Indonesia atau pulau-pulau di Indonesia mereka sebut dengan nama lain, maka ini adalah porsi ahli-ahli untuk menjelaskannya.

Kalau masih ada sub-etnis Batak yang disebut Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Simalungun, Karo, Dairi, Pakpak, Singkil, Kluet, Gayo, Alas, Melayu mengatakan bukan decendent dari Batak tentu mempunyai latar belakang sejarah dan mungkin dapat dibenarkan tetapi mungkin juga tak dapat dibenarkan. Lalu pengenalan identitas decendent ini sangat mengental muncul pada pernyataan-pernyataan yang mengemuka mengenai pembentukan Protap. Pernyataan-pernyataan seperti ini bukan hanya dikemukakan oleh masyarakat kebanyakan, akan tetapi seluruh lapisan dari mulai kalangan intelektual, kalangan birokrasi, kalangan politisi dan kelompok-kelompok masyarakat. Tentu tidak perlu kita paparkan di dalam tulisan ini, dan semuanya dapat kita telusuri pada informasi elektronik melalui internet di situs-situs yang memberitakannya. Apakah ini tidak dapat kita sebut sebagai ungkapan SAR?

Islam telah masuk ke Indonesia sejak awal perkembangannya di abad-7. Faham Islam yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW telah banyak merubah peradaban terutama dikawasan jazirah Arab dan menjadi zaman keemasan Islam sampai menguasai hegemoni Eropah sampai ke Spanyol dan Balkan. Tentu kawasan Indonesia terutama Sumatra sudah sejak awal dipengaruhi oleh zaman keemasan Islam ini, karena jalur perdagangan purba sudah berlangsung di kawasan Indonesia (Fansur = Barus) di Tanah Batak yang dilakukan oleh para pedagang Arab (termasuk Cina).

Pengaruh Islam di Indonesia sedemikian gemilang dilakukan para mualaf sambil berdagang dan bahkan menenggelamkan faham Hindu dan Budha yang sudah dianut oleh para nenek moyang orang Indonesia selama berabadabad. Jangan heran bila kaum dari Hadramaut yang mengaku dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW banyak bermukim di Indonesia membentuk komunitas yang membaur dengan orang asli Indonesia yang memang terkenal sangat toleran dan bersahabat.

Melayu Deli menjadi sebuah etnis baru di awal millennia kedua di Sumatra bagian Utara sekarang. Masyarakat Batak di pesisir pantai timur menjadi pelaku dagang yang intens dan langsung berhubungan dengan pengaruh Islam. Menganut Islam di jaman keemasannya adalah suatu kehormatan dan menjadikan anutan yang mendapatkan keuntungan disegala bidang kehidupan.

Hubungan dagang yang demikian semarak di Selat Malaka membuat hubungan raja-raja kecil di pantai timur Sumatra dengan kesultanan di Semenanjung Malaya yang notabene berasal dari Melayu di Riau menjadi demikian erat, dimana merekapun sudah menganut Islam pada jaman keemasannya. Maka kata Melayu pada masa itu menjadi sesuatu berkah sebagaimana kita sekarang ini menganggap dan menganut demokrasi sebagai merek yang paling moderen. Oleh karena itu, Melayu adalah Islam dan Islam adalah Melayu dan apabila bukan melayu dianggap terbelakang. Hilanglah identitas Batak dan berubah menjadi Melayu. (Kebenarannya boleh ditelusuri dari sumber2 Melayu Deli).

Belanda atau bangsa-bangsa Eropah mulai intens mencari nilai komersil perdagangan yang selama ini dilakukan oleh para pedagang Arab atau Gujarat dan mereka menuju sumbernya di Indonesia untuk memotong nilai harga yang sangat tinggi di Eropah pada masa itu. Mereka saling silih berganti mengadakan ekspedisi pencarian dan menguasainya dengan politik dagang dan perang, bahkan diantara merekapun terjadi perebutan yang saling berperang. Mereka berani menjalankan missi armada dagangnya karena Eropah memenangkan peperangan terhadap hegemoni Islam di Eropah yang dikenal dengan ‘Perang Salib’. Dari perjalanan sejarah ini dapat difahami bahwa faham agama (surgawi) dengan sangat mudah diarahkan untuk peperangan walaupun tujuan sebenarnya adalah konsumsi dagang (duniawi). Jadilah Indonesia (Sumatra) secara bergantian dikuasai oleh Eropah mulai dari Portugis, Inggris, Perancis, Belanda (Penjajahan Jepang Excluded karena tidak banyak mempengaruhi konteks SAR).

Agama selalu menjadi issu yang sangat sensitif dan terkadang orang enggan mengkaitkan perjalanan hidupnya dengan konteks agamanya walaupun seseorang itu adalah pembohong, koruptor atau pembunuh yang sama sekali tidak ditolerir oleh faham agamanya. Agama menjadi hubungan yang sangat sakral bagi penganutnya karena ada pemahaman yang sangat jauh melampaui logikanya dan sebagai penjamin kehidupan di alam lain. Ini sesuatu yang wajar bahwa setiap manusia tentu menginginkan hidup untuk selamanya yang tentu saja dalam arti jasmani tak mampu dipenuhinya untuk hidup selamanya.

Ada hampir 300 agama pernah berkembang terkondisi yang dianut oleh berbagai etnis di Indonesia berdasarkan kearifan lokal yang ada disekitarnya dan sebenarnya agama-agama ini yang pernah menjamin eksistensi segala etnis yang ada di Indonesia. Tetapi memang sudah demikian adanya bahwa agama yang berkembang di Indonesia ternyata bukan dari kearifan lokal tersebut melainkan secara alami ter-impor dari bangsa-bangsa lain dan itulah yang tercatat dalam undang-undang yang berlaku di Negara kita, sebut saja; Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu.

Masuknya faham agama ke Tanah Batak tentu mempunyai sejarahnya sendiri. Sudah dijelaskan sejarahnya menyangkut Batak yang menjadi Melayu di pantai timur Sumatra sementara yang berbatasan di bagian utara saling mempengaruhi seperti di Alas, Gayo, Kluet, Dairi, Pakpak, di perbatasan Aceh dan Karo, Simalungun juga di pantai timur banyak dipengaruhi Islam. Sementara di selatan Tanah Batak dipengaruhi oleh Minangkabau yang sudah pula lama menganut Islam yang langsung berhubungan dengan Melayu di Riau. Namun gelombang kedua masuknya Islam melalui Minangkabau ternyata merubah peradaban Batak secara drastis, yang kita kenal dengan gerakan wahabi melalui Perang Saudara Paderi. Mereka menyebutnya Islam Putih ternyata memerangi Minangkabau yang sudah menganut Islam ratusan tahun sebelumnya, maka terjadilah pengislaman kembali dalam konteks Jihad terhadap Islam Hitam oleh tohoh Tuanku Imam Bonjol Cs di awal abad-19.

Motif apapun itu ternyata gerakan Islam Wahabi ini masuk ke Tanah Batak di Selatan dan hanya dalam 2 tahun (1814-1816) berhasil mengislamkannya sampai ke kawasan Angkola. Kemudian masyarakat Batak di selatan melakukan ekspansi untuk mengislamkan Tanah Batak di utara, yang sekarang dikenal sebagai kabupaten tersisa yang mengajukan Protap yaitu Kab. Tapanuli Utara, Kab. Tobasa, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir- dahulu hanya satu kabupaten yang dipecah yaitu Kabupaten Tapanuli Utara.

Ekspansi gerakan wahabi Paderi dari Tanah Batak di Selatan ke utara ternyata memporakporandakan tatanan kemasyarakatannya. Perampokan, perampasan, perkosaan, dan pembakaran meluluhlantakkan Tanah Batak di utara dan berlangsung selama 2 tahun (1818-1820). Sementara Pakpak, Dairi, Karo, Simalungun tidak sempat mengalaminya sehingga secara emosional mereka kurang memahami peristiwa sejarah itu pernah terjadi di Tanah Batak. Gerakan wahabi itu akhirnya menyingkir dari utara karena banyak terjadi pemberontakan di selatan dan sementara penyakit sampar mewabah di utara karena ratusan ribu mayat tidak dikuburkan sementara masyarakat banyak yang menyingkir ke hutan-hutan.

Belanda dan Inggris mengadakan Traktat London 1824 dimana Inggris menyerahkan Minangkabau dipertukarkan dengan kekuasaan Belanda di Semenanjung Malaya, maka mulailah Belanda ikut memerangi Paderi yang awalnya atas permintaan raja-raja Batak di selatan yang memberontak kepada Paderi. Pihak pemberontak di Tanah Batak selatan yang meminta bantuan Belanda menandakan mulainya Belanda secara langsung berperang dengan Paderi Imam Bonjol. Pada tahun 1837 Imam Bonjol takut mati lalu menyerah dan dibuang ke Jawa Barat.

Belanda menjajah Batak setelah usai perang dengan Paderi. Di Tanah Batak selatan tentu ada kelompok-kelompok yang saling negosiasi dengan Belanda karena kebersamaan berperang dengan Paderi, sementara di Tanah Batak Utara setelah Paderi seolah kehilangan pegangan atas kultur dan agama leluhurnya (Paderi menyebutnya Jahiliyah, sementara Belanda menyebutnya Paganis). Sisingamangaraja-X (10) sebagai raja dan pemimpin agama yang dipercaya sebagai titisan tuhan ternyata mati terpenggal kepalanya semasa Paderi. Penggantinnya Sisingamangaraja-XI (11) tidak memiliki charisma dan meninggal karena sakit.

Evangelisasi Kristen masuk dari Jerman oleh Nommensen di tahun 1862 setelah sebelumnya evangelisasi Kristen banyak yang gagal karena dimakan? Karena tak ada figure pemimpin dan termasuk pegangan keyakinan agama maka evangelisasi Kristen lambat laun masuk ke Tanah Batak di Utara yaitu komunitas Batak di 4 kabupaten yang sekarang mengajukan Protap. Kemudian Sisingamangaraja-XII (12) memproklamasikan perang dengan Belanda di tahun 1876 yang dikenal sebagai Perang Batak sampat tahun 1907 kematiannya.

Muncul agama baru yang disebut ugamo Malim yang lebih pamor disebut Parmalim (bukan agama leluhur) setelah perang saudara Paderi di utara dan menjadikannya sebagai anutan dari Sisingamangaraja-XII (12). Sementara agama Katolik mulai masuk juga ke Tanah Batak di Utara dimasa Perang Batak yang dibawakan oleh Moligliani. Pengaruh Hindu di Tanah Batak sebenarnya sudah ada sejak pasukan Rajendra Chola-I bercokol di Tanah Batak di tahun 1025 M namun tidak menjadi faham agama yang berkembang dikemudian hari.

Negara Indonesia terbentuk pada 17 Agustus 1945, sudah banyak orang batak yang ikut dalam pergerakan kemerdekaan dan bahkan mereka menduduki posisi yang tertinggi di awal-awal kemerdekaan, tetapi kebanyakan (hampir semua) diantara mereka adalah Batak yang dari selatan. Batak di utara tetap dalam kemiskinan harta harena hampir punah (dipunahkan) semasa Paderi dan harta benda di rampas habis, –(menurut buku History of Sumatra – William Marsden 1772 bahwa Batak di utara sudah ramai dengan perdagangan didekat sebuah danau yang sangat besar ‘Danau Toba’ dan pertanian lebih tertata baik dibanding di selatan)-, sementara masyarakat Batak di selatan lebih makmur sehingga Batak di utara selalu menjadi objek pelecehan dan sinisme. Mengapa mereka relatif lebih makmur? Apakah karena perang Paderi?

Di tahun 1920 terjadi konflik horizontal antara masyarakat Angkola dan masyarakat Mandailing masalah pekuburan Islam di Sungai Mati Medan karena masyarakat Angkola yang sama-sama Islam dianggap Batak, jadi tidak boleh kuburannya satu lokasi, sementara mereka masyarakat Mandailing menganggap Melayu padahal Melayu di Deli tidak menganggap mereka Melayu dan tetap menganggap mereka Batak. Dari sejak awal memang sudah ada pola pikir SAR dari sub-etnis Batak Mandailing tertentu terhadap sebutan Batak.

Globalisasi memang menjadi persaingan yang sangat ketat antara pribadi dengan pribadi, kelompok dengan kelompok, suku dengan suku, bangsa dengan bangsa, Negara dengan Negara, serta kombinasinya. Kenyataan ini tidak perlu ditutuptutupi di jaman Cyber-World ini karena semua terinformasi dan bahkan dari yang sangat tersembunyi ternyata semuanya terungkap.

Pribadi, kelompok, suku, bangsa, Negara, dan bahkan agama harus saling menunjukkan identitasnya di era yang telah digilas oleh faham demokrasi. Nilai-nilai kebaikan dan kepatutan yang berinteraksi dengan pribadi, kelompok, suku, bangsa, Negara, dan bahkan agama tentu menjadi norma-norma universal dimana satu sama lainnya seharusnya saling ber-sinergi dan bukan seperti di jaman jahiliyah (black age) yang saling membinasakan.

CATATAN KHUSUS (Catatan khusus ini saya kemukakan setelah melepaskan baju nasionalisme dan menjadi tribalisme terhadap Protap karena setelah sejumlah situs yang mengangkat masalah Protap dan karena saudara Basyral Hamidy Harahap dalam naskahnya Tribalisme: Sisi Gelap Otonomi Daerah ternyata menganut tribalisme terhadap Mandailing daerah asalnya, dan naskahnya tersirat metode intellectual brain wash. Hebat beliau ini.. )

  • Prakarsa pembentukan Protap yang awalnya memang sangat jauh dari issu SAR karena para menggagas ternyata mendapat dukungan dari 10 kabupaten dimana semua unsur sub-etnis Batak berada di 10 kabupaten tersebut dan bahkan kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan yang secara genealogy tidak masuk dalam etnis Batak namun memiliki historical culture yang sama, juga ikut dirangkul.
  • Awal pemicu penolakan-penolakan dan bahkan usaha menghambat dan membatalkan pembentukan Protap sangat keras diissukan berdasarkan pemahaman seorang bule (secara genetika tidak memahami rasukan politik terhadap adanya issu SAR diantara masyarakat Batak yang sudah berkembang selama 200 tahun) yang membuat desertasi doctoralnya di tahun 1972 yang berjudul KEHIDUPAN POLITIK SUATU KERESIDENAN DI SUMATRA: TAPANULI 1915-1940 oleh Dr, Lance Castles dan dikawinkan dengan tulisan berjudul Tribalisme: Sisi Gelap Otonomi Daerah oleh Basyral Hamidy Harahap yang pernah ditolah pemuatannya oleh Harian Kompas di tahun 2002 dan naskahnya dikembalikan, namun beliau mengirimkannya kepada Mendagri Hari Sabarno dan kepada Gubsu T. Rizal Nurdin, dan seminggu kemudian Hari Sabarno mengeluarkan pernyataan bahwa Protap tidak akan diproses, dan terbakarlah rumput kering. Baca naskahnya di Nias Online  atau Blog Hamidy
  • Apakah hasil study di masa 1915-1940 dan didesertasikan pada tahun 1972 menjadi relevan di era reformasi tahun 2000-an ini ? (kasusnya sudah 70 tahun lalu). Saya belum membaca desertasi tersebut, tetapi saya telah membaca naskah Basyral Hamidy Harahap yang berjudul Tribalisme: Sisi Gelap Otonomi Daerah, dan pemahaman saya bahwa isinya sangat kental dengan ‘psywar’ dan ternyata kapasitas seorang mentri seperti Hari Sabarno hanya ukuran hari dapat tergilas akhirnya menggelepar. Lihat disini
  • Cuci otak terhadap Mendagri Hari Sabarno merembet menjadi psywar kepada kaum intelektual Batak terutama yang belum pernah memahami sejarah sekapasitas Basyral Hamidy Harahap, maka rontoklah integritas para cerdik cendekia Batak yang bertaraf professor dan para politisi Batak di high-ranking terbawa menjadi tribalisme pro-hamidy
  • Pembentukan Protap akhirnya kehilangan peserta dan hanya tinggal kabupaten yang bekas Kab. Tapanuli Utara. Tidakkah pembentukan Protap ini menjadi issu SAR setelah berturut-turut kabupaten yang bergabung sebelumnya seperti Kota Sibolga disusul Kabupaten Tapanuli Tengah, kemudian ikut pula Pakpak Dairi dan Pakpak Bharat dan menyusul Nias dan Nias Selatan? (Cerna sendiri)
  • Sukses seorang Basyral Hamidy Harahap melontarkan naskah-naskahnya tentang Protap di beberapa media memang seratus persen berhasil karena seperti apa yang digambarkannya sejak awal. Perlu juga diselidiki apakah ada grand-design dibalik ini karena seorang Basyral Hamidy Harahap memunculkan opini dengan metode psywar-nya. Pertanyaan yang timbul mengapa dia tidak memunculkan buah pikirannya dalam forum yang bersifat argumentatif misalnya membuka diskusi formal antara kubu yang ingin membentuk Protap dengan kubu yang tidak ikut (antara eks keresidenan Tapanuli dan eks Keresidenan Airbangis), malah dia membuat agitasi kepada yang bukan lahannya (dalam konteks Hamidy berasal dari daerah eks Keresidenan Airbangis).
  • Demikian pula pendapatnya tentang gagasan lain pembentukan propinsi Sumatra Timur sejalan dengan pembentukan Protap yang dikatakannya bernuansa peminggiran beberapa etnis yang berakibat adanya konflik horizontal. Hal ini sudah semakin ketahuan belangnya karena propinsi Sumatra Timur, apabila muncul tentu akan memunculkan kembali kesetaraan etnis Melayu Deli asli yang secara nyata terpinggirkan di pemerintahan Prov, Sumut (walaupun gubernurnya seorang Melayu). Yang jelas bahwa seorang Basyral Hamidy Harahap adalah pembawa pesan (messenger) untuk hegemoni kemapanan yang sudah berlangsung sejak Indonesia merdeka di Tanah Melayu Deli itu.
  • Kabupaten peserta pembentukan Protap yang sudah di SARA-i menjadi hanya eks Kab. Tapanuli Utara adalah sub-etnis yang secara konsekwen dan konsisten membawakan nama ‘Batak’ dalam situasi dan kondisi apapun, apakah dalam bentuk pelecehan, sinisme, sanjungan, dan pujian sementara sub etnis lainnya bahkan sebagian masyarakatnya membantahnya dan tentusaja mempertegas bahwa mereka bukan Batak sebagai pemilik wilayah Sumatera Utara sekarang, yang menurut William Marsden adalah wilayah Batak. Bahkan situs-situs internet Mandailing dari Malaysia menegaskan bahwa Mandailing bukan Batak dan sebagian masyarakat Mandailing di Tanah Batak mengaminkannya walau mereka memiliki kultur Batak dan garis keturunan yang tak terbantahkan. Nuansa SAR ini kan ibarat jarum yang jatuh ke rubuk kering yang tak dapat dilihat oleh mata tetapi hati dapat merasakannya.
  • Sekarang saya memakai Baju Nasionalisme dan mengomentari pembentukan Protap memang diarahkan dalam suatu rancangan besar yang berbau SAR. Sementara pembentukan propinsi lain yang berorientasi etnis seperti Banten dan Gorontalo tidak pernah dianggap sebagai tribalisme ala Basyral Hamidy Harahap.
  • Dengan memakai Baju Nasionalisme, saya mengomentari bahwa gagasan pembentukan propinsi lainnya diluar Protap untuk daerah etnis Batak lainnya ternyata tidak pernah dikomentari atau tidak ada diganggu oleh masyarakat yang membentuk Protap, apalagi sampai melakukan rancangan pembatalannya. Dari mengumpulkan dan mencatat data orang-orang yang mengungkapkan pernyataan-pernyataan menolak di media massa atas pembentukan Protap ternyata hampir seluruhnya satu warna. Mengapa mereka tidak beramai-ramai menolak pembentukan propinsi lain di luar protap di Sumut, untuk alasan ‘Masih lebih baik satu dalam Sumatra Utara?’ Lagi-lagi SAR…..
  • Dengan memakai Baju Nasionalisme, saya mengomentari bahwa pembentukan Protap seperti porsi sekarang ini yaitu eks Kab. Tapanuli Utara akan membahayakan diri sendiri kalau berasumsi pada standar tribalisme ala Basyral Hamidy Harahap, karena masyarakat Protap yang sekarang ini yang tegas memegang nama Batak dan mayoritas Kristen akan terjepit sendirian di Indonesia Barat. Dari aspek Jihad (jihad ala Nurdin M Top) tentu akan mampus. Sejarah Paderi bisa saja berulang. Kasihan…
  • Dengan memakai Baju Nasionalisme, saya mengomentari bahwa jangan-jangan ini semua memang scenario penggagas Protap agar akhirnya memang tinggal eks Kab. Tapanuli Utara yang mayoritas Kristen dan yang mengakui Batak, kemudian bersinergi dengan para perantaunya dan akhirnya terbentuk seperti sejarah Negara Israel yang homogen? Kalau begitu, harus mendapat penghargaan seorang Basyral Hamidy Harahap sebagai pejuang Protap???
  • Dengan memakai Baju Nasionalisme, saya mencoba mengkalkulasi peta geografis, statistic penduduk, potensi pertanian, perikanan, perkebunan, pertambangan dan pariwisata, sumber energi untuk konversi listri sangat besar, maka Protap yang hanya eks Kab. Tapanuli Utara masih lebih berpotensi daripada kabupaten yang meninggalkannya, apalagi bila dibandingkan dengan propinsi yang sebelumnya sudah keburu dibentuk seperti Babel dan Gorontalo. Sumber Dana dan Sumber Daya Manusia menurut saya mereka miliki secara melimpah dengan International connection yang masih diakui. Andai-andai pusat tidak mensubsidi pada awal pembentukannya, saya rasa empaty yang dituduhkan selama ini yang tidak mau marsipature hutanabe akan berbalik 180%. Apalagi kalau sudah terjepit, mungkin keluar bataknya.
  • Akhir kata: Hey Batak! (yang ngaku saja) dari dulu Lo mau dipencet tapi kok lolos aje yee… dasar banyak taktik…. Eeeh salah… kasihan deh lo,,,

Oleh: Maridup Hutauruk

Back home again

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: