Pilih mana, Jayalah Taputku atau Jayalah Silindungku!

Sebelum anda membaca artikel ini maka dimohon untuk <<<Click Disini>>>, sambil menunggu maka kembali ke topik dan teruskanlah membacanya. Kalau sudah full-downloaded, ulangi lagi lagunya.

Pada tanggal 5 Oktober 2009 lalu Kabupaten Tapanuli Utara genap berusia 64 tahun. Ini artinya bahwa tak sampai 2 bulan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 maka 5 Oktober 1945 adalah hari jadi Batak Landen menjadi Kabupaten Tapanuli Utara. 

Peta Kabupaten Tapanuli Utara sekarang

Semasa Kolonial Belanda, Kabupaten Tapanuli Utara adalah salah satu diantara 4 Afdeling dalam satu Residen yang disebut Residentie Tapanuli yang dipimpin oleh seorang Belanda. Ke empat Afdeling tersebut  adalah Afdeling Batak Landen, Afdeling Padang Sidempuan, Afdeling Sibolga, dan Afdeling Nias, kemudian menjadi empat kabupaten setelah kemerdekaan, berurutan disebut Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Nias. 

Afdeling Batak Landen terbagi menjadi 5 wilayah yang disebut Onder Afdeling dan terdiri dari:

  1. Onder Afdeling Silindung untuk wilayah Silindung,
  2. Onder Afdeling Hoovlakte Van Toba untuk wilayah Humbang,
  3. Onder Afdeling Toba untuk wilayah Toba,
  4. Onder Afdeling Samosir untuk wilayah Samosir, dan
  5. Onder Afdeling Dairi Landen untuk wilayah Dairi,

Masing-masing Onder Afdeling dipimpin oleh seorang yang Asisten Residen. Setiap Onder Afdeling terdiri dari beberapa distrik yang dipimpin oleh seorang Distrikchoolfd yang disebut Demang, sementara bawahan Demang yang disebut Asisten Demang mengepalai daerah yang disebut Onder Distrikten. Dibawah Onder Distrikten disebut Nagari dipimpin oleh Kapala Nagari, kemudian Nagari terdiri dari beberapa kampung yang dipimpin oleh Kepala Kampung. Semasa penjajahan Jepang, Afdeling Batak Landen dinamai Tano Batak Sityotyo yang dipimpin seorang Jepang disebut Gunseibu. Bawahan Gunseibu disebut Gunyakusyo. 

Jadi Hierarki kepemimpinan di Batak Landen semasa penjajahan Belanda adalah sebagai berikut:

  1. Afdeling Batak Landen dipimpin oleh Residen (Gunseibu)
  2. Onder Afdeling dipimpin oleh Asisten Residen (Gunyakusyo)
  3. Distrikten dipimpin oleh Demang (Huku Guntyo)
  4. Onder Distrikten dipimpin oleh Asisten Demang (Huku Gunyakusyo)
  5. Nagari dipimpin oleh Kapala Nagari
  6. Kampung dipimpin oleh Kapala Kampung 

Sekarang ini Afdeling Batak Landen tidak adalagi karena telah dipecah-pecah menjadi beberapa kabupaten pemekaran. Bekas Onder Afdeling Dairi Landen telah menjadi Kabupaten Dairi yang disahkan dengan UU No.15, 1964. Kemudian melalui UU No.12, 1998 bekas Onder Afdeling Toba dan Onder Afdeling Samosir dipecah dari Afdeling Batak Landen menjadi satu dalam Kabupaten Toba-Samosir (Tobasa).  Kemudian melalui UU No.22, 1999 Kabupaten Tobasa resmi belah dua menjadi Kabupaten Tobasa dan Kabupaten Samosir. Kemudian Melalui UU No. 9, 2003 Bekas Afdeling Batak Landen (Kabupaten Tapanuli Utara) dipecah lagi dan lahir Kabupaten Humbang Hasundutan, tak lain adalah bagian dari Onder Afdeling Hoovlakte Van Toba. Bersamaan dengan UU No. 9, 2003 ini pula Kabupaten Dairi dipecah dan lahir kabupaten baru bernama Kabupaten Pakpak Bharat. 

Kalau disimak-simak maka bekas Afdeling Batak Landen yang disebut Kabupaten Tapanuliutara ini sudah melahirkan lima kabupaten baru yaitu Kabupaten Dairi, Kabupaten Tobasa, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pakpak Bharat, dan boleh jadi akan muncul lagi Kabupaten Humbang Habinsaran? 

Kalau bahasa halusnya maka pemunculan kabupaten baru dari Kabupaten Tapanuli Utara itu disebut pemekaran, tetapi kalau bahasa kasarnya disebut pemecahan atau penciutan karena Kabupaten Tapanuli Utara yang dulu dan yang sekarang tetap memakai nama yang sama, padahal ibarat peta sudah terkoyakkoyak. Kalau kita mengandaikan kepada seorang bapak, maka Kabupaten Tapanuli Utara yang sudah berusia 64 tahun sudah melahirkan 5 orang anak dan dimasa tuanya inipun mungkin akan mendapat anak baru yang ke enam yaitu Kabupaten Humbang Habinsaran. 

Kalau melihat perkembangan kemajuannya setelah memekarkan kabupaten lainnya maka akan sama seperti diibaratkan sebagai seorang bapak yang sudah uzur dan tua renta, tak mampu lagi untuk berkembang. Tadinya sibapak tua yang disebut Batak Landen memiliki lahan yang maha luas sudah mewariskan lahannya kepada anakanaknya itu untuk mengurusi hartanya masing-masing, tetapi sibapak tua tetaplah bapak tua renta yang kayaknya sudah tidak bisa apa-apa lagi dan biasanya orang yang sudah renta sudah cenderung berhidup pasrah dan tidak jarang akan terlihat sudah lebih mendekatkan diri kepada tuhannya, padahal dia masih punya tanggung jawab sebagai yang hidup. 

Kalau begitu, situa bangka yang berusia 64 tahun ini sudah seharusnya masuk ke istilah ‘hidup baru’ atau ‘lahir baru’, dan mengapa harus membawakan Kabupaten Tapanuli Utara yang sudah kuno itu? Bukankah Afdeling Batak Landen itu hanya tinggal Onder Afdeling Silindung? Ya… lahir saja kembali sebagai Kabupaten Silindung. Buat apa mengenang kebesaran kehidupan lama yang sudah lapuk termakan usia sebagai Kabupaten Tapanuli Utara yang tidak sepadan lagi? 

“Jayalah, Taputku!” demikianlah slogan dalam situs resmi Kabupaten Tapanuli Utara yang masih dalam ‘uji coba’ untuk mencoba memperbaharui tampilannya dari tampilan lama yang terseok-seok mempromosikan kabupaten tua ini. Memang ada sesuatu yang baru tetapi masih seperti ada yang kurang menyentuh hati sanubari dan empati. Jayalah Silindung! Sepertinya lebih mengusik, disamping sejarah Silindung yang sudah demikian lama dikenal dibanding Tapanuli Utara. 

Tercatat dalam History of Sumatra oleh William Marsden di tahun 1776 bahwa Silindung sudah dikenal sebagai tempat salah satu komunitas Batak, mereka menyebutnya Batak Selindong. William Shakespear sang pujangga pernah menyebut “Apalah arti sebuah nama!”  boleh jadi ada benarnya, tetapi dalam dunia moderen bahwa nama adalah sebuah citra, trade-mark, atau sebuah harapan yang akan membawa berkah. Sebuah nama dari seorang anak menjadi pertimbangan orang tuanya untuk memilih yang terbaik bagi dirinya dikemudian hari sehingga merekapun membuat syukuran untuk sebuah nama. Adapula nama seseorang dirasa masih kurang komersil untuk meninggikan harkatnya maka diapun menyandangkan nama barunya melalui suatu pertimbangan yang sangat cermat, maka lahirlah sebuah nama dan ini banyak terjadi pada artis. 

Kata ‘Tapanuli Utara’ bukanlah sebuah nama yang dipertimbangkan rakyatnya secara matang menjadi nama yang membawa berkah kemakmuran dikemudian harinya. Nama ini hanyalah nama ikutan dari sebuah penamaan di kawasan teluk Sibolga dan pada masa kemerdekaan hanya dicantumkan begitusaja untuk membedakan antara Utara dan Selatan sebagai bagian dari Batak Landen. Kalau penamaan Tapanuli Utara sejak awalnya memang asal jadi saja, lalu mengapa harus dipakai selamanya, bahkan saat sekarang ini sudah tidak lagi sesuai konteksnya. 

Kenyataannya bahwa nama Tapanuli Utara sejak awalnya memang sudah tidak membawa berkat kemakmuran bagi rakyatnya dibanding dengan nama Silindung yang sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi nama yang bersimbolkan kemakmuran. Kabupaten Tapanuli Utara yang dahulu disebut Afdeling Batak Landen memiliki wilayah yang demikian besar yang melingkupi. Oder Afdeling Dairi Landen akhirnya memisahkan diri dan menjadi Kabupaten Dairi membawakan nama keciriannya, sementara Tapanuli Utara yang sudah terbagi itu masih memakai namanya yang tak jelas itu. Kemudian Onder Afdeling Toba dan Onder Afdeling Samosir memisahkan diri dan membentuk kabupaten baru yang bernama Kabupaten Toba-Samosir juga bercirikan namana, sementara Tapanuli utara yang semakin kecil lagi masih saja memakai nama yang tak punya sejarah itu. Kemudian Onder Afdeling Humbang juga memisahkan diri menjadi Kabupaten Humbang Hasundutan sehingga lebih memperkecil lagi wilayah Tapanuli Utara dan Tapanuli Utara masih juga memakai nama tak bermaknya itu. Rangkaian sejarah ini sudah jelas menggambarkan bahwa nama Tapanuli Utara bukanlah nama yang membawa rezeki bagi masyarakatnya. 

Tidakkah kita ingat puja-puji dari nyanyian komponis besar Nahum Situmorang dengan judul lagu Rura Silindung dan Dijou Au Mulak Tu Rura Silindung? Sangat menyentuh. Coba kita simak dan kalau boleh nyanikan saja, tetapi sebelum ke katahati Situmorang kita kenang dulu >>>yang ini<<<

Itu Rura Silindung Najolo, kalau berikut ini, : 

  1. Coba Video Clip dari You Tube ini >>>Click di sini<<< atau
  2. You Tube >>>Christine Panjaitan<<<
  3. Coba dulu MP3 yang ini: >>>Click di sini<<<

Rura Silindung, karya Nahum Situmorang

  • Molo mangkuling si rumandang ari i
  • Soluk maro si rumondang bulan i 
  • Huhut mangkuling sese di balian i
  • Lao mangendehon rura silindung nauli 

Reff.

  • Rura silindung, rura na sun denggan i
  • Lambok malilung, na marbuju na disi
  • Di pukul opat, di robot ni borngin i
  • Disipe mulak, si doli pangaririt i

Versi Improvisasi MP3: >>>Click di sini<<<

Kalau anda memang sudah melupakan mereka, maka mereka menjerit karena memang >>>Lupa Do Ho<<<, >>>di sini<<<

Lagu kedua ini lebih menyentuh lagi: 

  1. Coba dengar apa kata Christine Panjaitan ini,
  2. Boleh juga coba You Tube ini >>>Click di sini<<<

Dijou Au Mulak Tu Rura Silindung, karya Nahum Situmorang 

I.

  • Sian na dao hubege do sada ende,
  • tar songon na mangandungandung inang
  • Mangandungi au na jalang i,
  • tangis tarlungunlungun au inang
  • Dijou au mulak inang tu Rura Silindung
  • Asa gira hu ida inang na lambok malilu

 II. 

  • Mansai hansit jala ngotngot mansai porsuk
  • jala dangol do andung i begeon inang
  • Dibusuki dibolai ateate
  • dibagasan dilalai da inang
  • Dijou au mulak inang tu Rura Silindung
  • Disido paimahon inang na lambok malilu
  • Hundul au inang hualhualon,
  • tangis au inang hasosombopon
  • Mata da inang so ra tarpodom,
  • binaen ni sidangolon da inang

 III.

  • Dibahen i aut marhabonghabong au
  • tarsongon lali habang au da inang
  • Tongkinon do pe au lao habang
  • manampuhi angka dolok rura inang
  • Nalao ma au habang inang tu Rura Silindung
  • Asa gira huida inang na lambok malilu

Musik …. Kembali ke-II, sampai habis

Ada pesan-pesan luhur yang terkandung dalam dua lagu yang dikarang oleh komponis besar Batak tersebut yaitu Nahum Situmorang.  Sedemikian tersentuhnya setiap orang yang menyanikan lagu tersebut baik dari nada dan liriknya tentu akan menyentuh hati nurani orang-orang yang berkaitan dengan kesan Silindung itu. 

Oleh karena itu sudah seharusnya Kabupaten Tapanuli sekarang diganti saja namanya menjadi Kabupaten Silindung sekaligus melimpahkan warisnya untuk membentuk sebuah kabupaten mekaran lainnya yaitu Kabupaten Humbang Habinsaran. Kalau itu terjadi maka JAYALAH SILINDUNG!

Coba dengar pesan ini sekali lagi >>>Click di sini<<<, selanjutnya menjadi tanggung jawab anda…

Mulak tu bona>>> 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: