Jakarte Punya Cerite, Ini Medan Bung!

Sebuah Pilihan

Setelah 20-an tahun meninggalkan habitatku karena harus melanglang buana dan juga harus menetap tinggal di megapolitan ibukota Jakarta yang menjadi pintu gerbang Indonesia dalam pergaulannya dengan negara-negara lain. Banyak pengalaman yang menarik untuk dikenang sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi semasa kurun waktu tersebut.

Di dalam kesibukan sehari-hari tentu tidak pernah terlintas dipikiran bahwa sebenarnya sudah sangat jauh terjadinya perubahan-perubahan termasuk yang sangat mendasar bagi setiap individu. Kesadaran adanya perubahan drastis barulah terpikirkan pada saat-saat ada waktu seketika untuk merenungkan ke masa-masa pertamakali menjejakkan kaki di Jakarta, bernostalgialah namanya.

Jakarta, untuk ukuran Indonesia memang menjadi magnet yang mempengaruhi banyak masyarakat daerah di Indonesia yang menjadi tujuan disamping untuk dikunjungi, juga menjadi tujuan untuk meletakkan harapan masa depan seseorang. Disamping sebagai tempat pertemuan budaya antar bangsa maka Jakarta juga menjadi pusat pertemuan etnis dari segala penjuru tanah air. Tidak akan ada kota di Indonesia ini yang memiliki multi etnis yang paling lengkap di Indonesia. Dari sekitar 300-an etnis di Indonesia hampir dapat dipastikan mayoritas etnis ada di Jakarta atau Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Walaupun mungkin dari segi jumlah komunitasnya bervariatif dan ada yang lebih dominan mempengaruhi satu dengan yang lainnya yang memberikan warna budaya baru di Indonesia.

Etnis dari Pulau Jawa tentu yang mendominasi dan mayoritas mempengaruhi budaya Jakarta atau Jabodetabek, sebut saja Betawi, Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur. Diluar itu maka etnis dari Pulau Sumatra menjadi penyumbang pengaruh besar khususnya dari Sumatra Utara. Maka menjadilah sebuah kultur yang berkarakter sebuah komunitas berstandar Indonesia.

Multi etnis dengan heterogenitas yang sangat tinggi ini secara positif membentuk komunitas berstandar Indonesia memang menjadi patokan untuk seluruh daerah di Indonesia. Komunitas ini tidaklah terbentuk dalam sekejap mata melainkan secara perlahan dan pasti berlangsung selama beberapa dekade setelah kemerdekaan Indonesia yang sudah berusia 64 tahun.

Semua orang yang pernah hidup, tinggal dan mati di Jakarta turut andil membentuk Jakarta dengan berbagai problema kehidupan dalam susah dan senang, menderita dan bahagia, dan banyak sebutan parameter lainnya, maka tidak jarang terdengar pameo mengatakan “Kejam Ibu Tiri, Lebih Kejam Lagi Ibu Kota”. Memang banyak yang mengalami kegagalan tetapi banyak pula yang menikmati keberhasilan.

Dua belas juta penduduk Jakarta bukanlah sebuah bilangan yang sedikit untuk ukuran kota-kota besar di dunia. Untuk mendukung kehidupan manusia-manusia tersebut tentu dengan tersedianya infra struktur yang memadai disertai dengan kekuatan uang yang besar untuk memutar perekonomian masyarakatnya. Oleh karena itu jangan heran apabila 60% perputaran uang di Indonesia dikendalikan dari Jakarta ini. Jangan heran pula bahwa masyarakat Jakarta harus hidup di atas uang, dan kalau tidak mampu hidup di atas uang maka pameo yang disebutkan di atas berlakulah pada dirinya.

Traffic atau lalu-lintas merupakan parameter umum yang paling gampang dan mengena untuk mengetahui karakter masyarakat disuatu kawasan, tak terkecuali di Jakarta. Dalam berlalu lintas, tentu ada interaksi antara sesama pengguna lalu-lintas dengan fasilitas lalulintas yang tersedia. Jalan adalah sarana lalu-lintas yang didukung oleh rambu-rambu sebagai wujud yang disepakati bersama. Disana ada rambu-rambu berupa papan tanda, lampu stopan (traffic light). Tujuannya adalah untuk kepentingan bersama memanfaatkannya dengan mudah, gampang, menyenangkan, dan aman.

Dalam berlalu-lintas maka ada banyak kelompok masyarakat yang terlibat. Walaupun bukan patokan mutlak yang menjadi parameter status sosial tetapi kelompok-kelompok ini sudah menggambarkan statusnya. Ada pejalan kaki, ada pengendara sepeda, ada pengendara sepeda motor, ada angkutan umum, ada angkutan barang, ada kendaraan pribadi, dimana semua pengguna itu bercita-cita untuk mendapatkan manfaat, mudah, gampang, menyenangkan, dan aman.

Manusia atau masyarakat merupakan salah satu modal utama pembentuk karakter sebuah kota termasuk Kota Megapolitan seperti Jakarta atau Jabodetabek. Seperti disebutkan tadi, lalu-lintas Jakarta menunjukkan karakter orang Jakarta juga. Ada yang mengatakan kalau orang Bogor masuk Jakarta maka mereka akan selalu mengangkangi garis putih pembatas jalan sehinga dua jalur akan terhambat untuk dilewati oleh kendaraan yang dibelakangnya. Memang menjadi bahan perhatian juga apabila kita melintasi jalan tol di Jakarta dan bila melihat kendaraan ber-plat polisi F, matapun akan selalu tertuju kepada  kendaraan yang mengangkangi garis dimaksud. Demikian pula apabila kendaraan pribadi dari luar kota yang masuk jalan tol di Jakarta akan selalu terlihat berjalan di kanan jalan dengan laju kendaraannya lebih lambat sehingga dinamika berkendaraan di Jakarta yang relatif kencang menjadi terhambat dan terpaksa harus melanggar aturan mendahului dari kiri. Demikian pula apabila angkutan umum bus besar di Jakarta disebutkan sebagai suka-suka menggunakan jalan. Demikian pula angkutan kota kendaraan kecil yang seenaknya mengetem berlapis menutupi seluruh jalan sehingga kendaraan dibelakangnya terhambat untuk lewat. Belum lagi sepeda motor yang berjubel-jubel banyaknya mersukaria meliuk-liuk seolah tak punya ketakutan untuk setiap saat mengalami kecelakaan.

Apabila kita menemukan keadaan lalu lintas yang demikian itu maka selalu kejadiannya terjadi dipinggiran kota Jakarta yang berbatasan dengan Bogor, berbatasan dengan Depok, berbatasan dengan Tangerang, berbatasan dengan Bekasi sebagai pintu masuk ke inti kota Jakarta. Anehnya apabila kita mengamati perilaku berkendaraan di pusat kota Jakarta lebih terlihat disiplin kepatuhan terhadap rambu-rambu termasuk saling menghormati pengguna kendaraan lainnya. Ini menjadi fenomena menarik yang menjadi pertanyaan; apakah ada hubungannya tingkat sosial-ekonomi masyarakat dengan kepatuhannya penggunaan jalan raya?

Apabila diamati memang terlihat ada benarnya juga. Bila di kawasan perkantoran elit di Jakarta yang banyak dihuni oleh karyawan perkantoran maka para pengguna kendaraan terlihat lebih rapi dan mematuhi rambu-rambu. Dipinggiran Jakarta memang menjadi pusat pemukiman segala macam multi etnis, multi social-level, termasuk pola pendidikan formal dan informalnya yang sangat variatif yang sangat mempengaruhi penggunaan jalan umum sebagai fasilitas yang seharusnya dinikmati bersama.

Demikian pula perilaku masyarakat di kawasan perumahan yang umumnya ada dipinggiran kota Jakarta akan menjadi penderitaan melintasi jalan aksesnya termasuk jalan-jalan diperumahan. Jalan rusak dan berlobang menjadi kebutuhan mutlak masyarakat untuk tetap tersedia dalam keadaan baik agar nyaman dan lancar untuk dilalui. Kenyataan terbalik ternyata ada pada masyarakat Jakarta. Masyarakat seolah berlomba untuk memasang polisi tidur disepanjang jalan. Sangat lazim ditemukan bahwa setiap 100 m terdapat polisi tidur yang menonjol tinggi dan tanpa bertanda garis-garis sebagai peringatan. Ada apa dibenak masyarakat pembuat polisi tidur itu? apakah agar pengguna jalan mendapat celaka? apakah berharap agar kendaraan yang lewat menjadi rusak? apakah agar pengguna jalan tidak merasa nyaman? Prinsip pembuatan jalan agar berfungsi untuk memperlancar, cepat, aman, dan nyaman, samasekali tidak lagi menjadi standar kebutuhannya. Kalau jalan berlubang dan berkubang yang membuat pengguna jalan tidak lancar, tidak aman, dan tidak nyaman disebut jalan rusak, dan justru masyarakatnya merusak jalan dengan membuat gundukan (polisi tidur) dan pengguna jalan menjadi tidak lancar, tidak aman, dan tidak nyaman.

Perilaku aneh masih ditemukan secara merata menyebar di setiap komplek perumahan di Jakarta. Kebanyakan jalan akses ditutupi dengan portal sehingga jalan tidak lagi berfungsi sebagai jalan sehingga memperkecil jumlah akses yang menyebabkan kemacetan pada simpul-simpul yang menumpukkan kendaraan pada satu akses yang padat. Mungkin ini yang diebut ‘over protection’ yang berakibat hilangnya interaksi partisipatif antar sesama, maka pameo yang selalu disebutkan oleh masyarakat daerah menjadi kebenaran seperti “siapa lu siapa gue”, selfish, egoist, tentu sama dengan tidak agamais.

Ada benturan kultur (cultural shock) yang terjadi di masyarakat Jakarta akibat banyaknya terjadi urbanisasi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang menumpukan harapannya di Jakarta sehingga perjalanan waktu membentuk kecirian Jakarta menjadi standar masyarakat di Indonesia. Apakah ini menjadi pola idial masyarakat Indonesia yang berdaya guna untuk dicontoh oleh masyarakat daerah? belum tentu!

Sekali dalam setahun menjelang Hari Raya Idul Fitri maka sudah membudaya bagi masyarakat Jakarta untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Jutaan masyarakat berpindah tempat dari Jakarta ke kota-kota lain. Terjadi suasana yang sangat kontras bila dibandingkan dengan hari-hari biasanya di Jakarta. Ada ketenangan, ada keindahan, ada kenyamanan bila kita berkeliling kota Jakarta pada masa-masa seperti itu. Apakah ini pula yang menjadi pola kota yang idial? Belum tentu pula ini sebagai jawabannya.

Memilih dan pilihan adalah salah satu ciri dominan kehidupan anda di Jakarta untuk dapat survive. Apabila anda tidak mampu memilih atas pilihan yang tersedia maka akan tersesat dikeramaian. Apakah ada yang perduli dengan anda? Dinamika kehidupan membawa alam pikiran anda untuk praktis, taktis, kritis, dinamis, kompromis, optimis, dan mudah-mudahan anda akan mendapat yang manis. Namun apabila anda berjalan dalam koridor yang apatis, egois, pesimis, termasuk agamais maka anda akan terbelenggu dibalik teralis hutan beton Kota Jakarta.

Kalau kita mau mengamati keberagaman yang menjadi pendapat individu yang sudah menyatu menjadi komunitas Jakarta maka akan berjejer sejumlah pernyataan oleh orang-orang yang sedang terbelenggu sampai orang-orang yang sudah merasakan kemerdekaannya. Penulis dalam beberapa kesempatan ada menanyakan beberapa individu yang mengambil peluang di Jakarta untuk menjalani kehidupannya. Kebetulan mereka dari kelompok komunitas yang berasal dari Medan dengan bermodal pendidikan tinggi, termasuk beberapa individu yang sudah dianggap berhasil keluar dari pameo “Kejam Ibu Tiri, Lebih Kejam Lagi Ibu Kota”, berikut kira-kira pertanyaan dan jawaban yang diperoleh:

  1. Apa tujuan anda datang ke Jakarta? “Mencari peluang dan berjuang untuk mencapai kesuksesan seperti orang-orang yang sudah sukses.” Sikap optimisme dan semangat kedaerahannya demikian mengemuka untuk bersaing di Jakarta. Tujuannya agar dapat bekerja di pemerintahan atau BUMN dengan bermodalkan ijazah S1 yang tertera IP mengagumkan. Satu tahun, dua tahu, tiga tahun dan sampai tahun ke empat ternyata tidak satupun departemen dipemerintahan maupun BUMN yang berminat memakainya karena memang tidak pernah lulus dalam setiap seleksi. Tawaran sanak saudara untuk temporary job (magang) semisal sebagai front officer atau satpam sejak awal sudah ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak bergengsi apalagi fasilitas kehidupannya masih dicukupkan oleh orang tua dengan menyediakan rumah tinggal dan kendaraan. Selidik-punya selidik ternyata ketidak mampuan bersaing adalah akibat ketidakmampuan mengadopsi kultur pekerja di Jakarta. Para pekerja di Jakarta yang sudah harus berangkat kerja pada jam 5 subuh ternyata dia baru bangun jam 10 pagi. Para pekerja di Jakarta baru tiba di rumah pada pukul 10 malam sementara dia sudah bermimpi menyambung tidur siangnya. Maka Cultural shock memang membelenggu kehidupannya.
  2. Apakah anda tidak berniat kembali ke daerah dan disana masih banyak potensi yang dapat meningkatkan eksistensi pendidikan dan ekonomi? “Tidak berniat, ada rasa malu kalau harus kembali dalam kegagalan.” ‘Rasa Malu’ sebenarnya menjadi modal dasar untuk membentuk karakter bangsa, akan tetapi ‘malu’ dalam konteks ini merupakan belenggu yang membentengi kehidupannya dibalik jeruji materialistis dibanding eksistensi diri. Potensi pendidikan ternyata harus dibayar dengan berdagang kaki lima, menjajakan dagangan buah door to door, atau meng-ojek, semuanya terjadi hanya karena benturan kultur kedaerahan dengan kultur Jakarta yang dinamis.
  3. Anda kan sudah sukses diperantauan ini, apakah anda tidak berniat untuk berpartisipasi melihat daerah anda untuk digali berdasarkan potensi kesuksesan anda? (pertanyaan ini ditujukan pada seorang individu yang sudah lebih satu dekade berhasil sukses di Jakarta). “Belum terpikirkan! saya masih lebih berharga dan bermartabat disini daripada harus kembali ke daerah untuk sesuatu yang akan menurunkan martabat” Figur yang telah suksespun ternyata sungkan untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat asalnya. Tidak terlihat adanya pola pikiran materialistis pada diri figur ini, namun lebih banyak tertuju kepada pengakuan terhadap eksistensi dirinya yang tidak mendapat sambutan di daerah asalnya. Disini terlihat juga bahwa benturan kultur ternyata sangat menghambat untuk men-sinergikan potensi diri seseorang.

Dari tiga pertanyaan kepada dua pandangan individu yang mewakili strata intelektual yang sama, dengan pencapaian kehidupan sosial masing-masing individu yang sangat kontras berbeda, boleh jadi mewakili gambaran tentang masyarakat urban Jakarta yang berasal dari daerah. Ada sepotong ego yang melekat pada dua figur yang digambarkan dan kita merasa sulit untuk men-jastifikasi ego mana yang bermakna kebenaran sesungguhnya untuk membentuk karakter masyarakat Indonesia yang diidam-idamkan sebagai cita-cita bangsa menuju masyarakat adil dan makmur.

Setelah lebih dari 2 dekade, penulis berkesempatan berkunjung ke daerah asal yang kebetulan dari Kota Medan, asal sama dengan yang diwawancarai di atas dan memang sangat merasakan benturan kultur yang sangat kontras dari beberapa aspek kehidupan masyarakat secara umum. Mungkin ini dapat menjadi gambaran fenomenal yang perlu pengkajian lebih mendalam tentang benturan kultur yang dimaksud.

Pemerintah Pusat di Jakarta telah menerapkan apa yang disebut Otonomi Daerah, tentu dengan maksud agar membuka keran sebesar-besarya agar lebih mensetarakan keberdayaan masyarakat di daerah-daerah dan di pusat, akan tetapi arus urban ternyata tidak berindikasi kepada termanfaatkannya potensi intelektual daerah untuk mampu membangun sendiri daerah yang telah dikuasainya. Pandangan menjadi pegawai pemerintahan sebagai simbol-simbol kekuasaan masih saja tetap melekat dimata masyarakat, padahal secara hakiki bahwa mereka yang hidup dan dihidupi oleh pemerintah atas uang rakyat adalah ‘abdi rakyat’ yang harus mengabdikan dirinya kepada rakyat atau masyarakat. Jadi sudah jelas bahwa mereka ‘bukan rakyat’ dan kekuasaan pemerintahan ada ditangan rakyat sebagai wujud pengartian dari demokrasi, tetapi masih juga orang-orang berloba menjadi pegawai, walau sogok menyogok mewarnainya.

Kota Medan atau Sumatra Utara, katanya sebagai duplikat Jakarta yang multi etnis, karena tidak ada daerah lain yang demikian heterogennya diluar Jakarta, seharusnya banyak pula mengadopsi kultur masyarakat Jakarta. Sebagaimana disebutkan kegiatan lalulintas sebagai gambaran masyarakatnya maka demikianpula yang kita mau coba gambarkan untuk Kota Medan.

Kesempatan untuk mengitari Kota Medan untuk beberapa lama sambil menikmati masa nostalgia dan mengamati masyarakat yang sudah sekian lama ditinggalkan ternyata terjadi juga benturan kultur. Pameo “Ini Medan Bung”, sebelumnya dikonotasikan untuk menggambarkan kebanggaan yang perlu ditonjolkan ternyata dari sisipandang kultur lain menjadi kenistaan yang memalukan.

Mungkin diseluruh dunia akan memiliki pemahaman yang sama bahwa Lampu Pemberhentian Jalan Raya “Traffic Light” yang memiliki tiga warna seperti Merah untuk Stop, Kuning untuk berhati-hati, dan Hijau untuk Jalan, tetapi di Kota Medan justru bermakna sebaliknya.

Ada kesan bagi orang Medan bahwa Lampu Merah berarti Jalan dan Lampu Hijau untuk berhati-hati. Beberapa kejadian yang tidak masuk akal selalu dialami oleh penulis selama berkendaraan di Kota Medan. Apabila anda berhenti pada saat Lampu sedang menyala merah maka anda akan dipaksa oleh kendaraan yang dibelakang anda untuk berjalan dengan membunyikan klakson yang hingar-bingar. Apabila anda tetap saja berhenti sebelum Lampu berubah Hijau, maka anda akan dimaki-maki oleh orang Medan tersebut, dikatakan “Goblok – Ini Medan Bung”. Selanjutnya bila anda merasa yakin untuk berjalan pada saat Lampu bernyala Hijau maka ada kemungkinan akan terjadi kecelakaan karena lawan anda dari seberang sana yang sedang mendapat Lampu menyala Merah akan menerobosnya karena diartikannya sebagai “Jalan”. Jadi bila di Kota Medan, Lampu Hijau bermakna “Hati-hati”, Lampu Merah diartikan ‘Jalan’.

Sekali peristiwa di suatu kawasan parkir saat mencari bantuan untuk space parkir dan tidak seorangpun petugas parkir terlihat dilokasi untuk mengarahkannya. Ada kesan bahwa kawasan itu memang tidak memiliki tukang parkir. Tetapi sewaktu akan keluar, maka secepat kilat sang tukang parkir tak berseragampun sudah berada disamping untuk menerima uang parkir. Komunikasipun berjalan; “Bang, tadi tak ada tukang parkir yang mengaturnya, kok sekarang tiba-tiba ada?”, “Abang saja yang tidak melihat saya!” katanya dengan logat Medan yang kental itu.

Ada sepenggal komunikasi dengan seorang sahabat lama di Kota Medan mengenai Traffic Light yang kebetulan menemani berjalan-jalan. Tiba disebuah lampu stopan-merah yang seharusnya berhenti walaupun akan berbelok ke arah kiri karena tidak ada marka yang menunjukkan boleh jalan. Pada saat kendaraan yang saya tunggangi berhenti maka klakson kendaraan dibelakang berbunyi hingar-bingar memaksa saya berjalan. Dan saya berjalan membelok ke kiri, lalu saya kepergok oleh polisi yang menyetop saya untuk minggir, sementara kendaraan yang dibelakang saya tadi berjalan begitu saja. Sang polisi menghormat sambil mengatakan saya bersalah berbelok ke kiri karena tidak ada rambu yang memperbolehkannya. “Saya dipaksa jalan pak!” demikian saya katakan kepada pak polisi gendut itu dan diapun membalas; “Kok mau kau dipaksa orang berbuat salah!” demikian serunya sambil meminta kelengkapan surat kendaraan dan SIM karena memang ber-plat-B. Saya tidak menyerahkan surat-surat yang diminta, tetapi menyerahkan selembar duapuluhribuan dan sayapun dipersilahkan berjalan.

Jadi bunyi pameo “Jakarte Punye Cerite dan Ini Medan Bung!” sedikit mengandung makna yang bernuansa benturan kultur di masyarakatnya. Kalau memang tidak menjadi simbol kebanggaan, kita buang saja slogan itu. Beres kan!

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: