Tarutung Tak Ber-Energi?

Kalau sudah dikatakan ‘tak berenergi’ maka semua orang akan memahami dan mengartikannya ‘tak punya tenaga’. Energi memang merupakan nama lain dari tenaga. Jadi apabila seseorang dikatakan tak punya tenaga atau tak bertenaga maka dia sudah tak mampu melakukan apa-apa. 

Sumber energi bagi tubuh manusia adalah apa yang dia makan. Pola makan akan menentukan tenaga yang mampu dikeluarkannya. Demikian pula untuk mahluk hidup lainnya, bahwa makanan merupakan sumber energi untuk melkukn aktivitasnya selama hidup. Apabila sumber energinya sudah tidak ada, maka mereka tenti tidak makan, dan merekapun akan mati. 

Kalau siklus hidup binatang adalah hidup untuk makan, makan untuk mati, artinya banyak jenis binatang yang dihidupkan dan kemudian dimatikan untuk dikonsumsi sebagai makanan, dan itu dikendalikan oleh manusia sebagai mahluk yang lebih cerdas. Coba kita bayangkang apabila predikat manusia bukan sebagai mahluk cerdas tetapi sebagai mahluk peliharaan binatang cerdas, misalnya manusia dipelihara atau ditangkar oleh harimau (babiat, bahasa Batak) maka manusiapun akan sama dengan siklus hidup binatang yang disebutkan di atas yaitu hidup untuk makan dan makan untuk mati dimangsa oleh babiat yang menangkar manusia itu. 

Manusia sebenarnya mempunyai siklus hidup yang lebih panjang rantainya, misalnya; hidup untuk makan, makan untuk berkarya, berkarya untuk bersosial, bersosial untuk mendapat kehormatan, mendapat kehormatan baru mati. Ini hanya salah satu rantai panjang kehidupan manusia. 

Kalau untuk komunitas manusia yang ada di Tarutung yang mayoritas orang Batak, maka siklus hidup yang disebutkan di atas sebenarnya berlaku juga, bahkan seorang komponis Batak asal Tarutung bernama Nahum Situmorang pernah pamor lagunya yang berjudul ‘Anakhonhi Do Hamoraon Di Au(ahu)’ dimana penggal baitnya mengatakan ‘Hamoraon – Hagabeon – Hasangapon (Harta – Berketurunan – Terhormat)’ merupakan cita-cita untuk dicapai oleh orang Batak pada umumnya. Jadi jelaslah bahwa untuk manusia Batak bahwa bukan hanya makan saja yang dipentingkan dalam hidup ini. 

Lalu apa hubungannya denga judul artikel “Tarutung Tak Berenergi’? Ini sebenarnya ada kaitan dengan kata energi yang sebenarnya banyak berlimpah di Tarutung untuk mengaktifkan kehidupannya seperti yang digambarkan pada paragraph-paragraf di atas, salahsatunya adalah energi geothermal yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik yang mampu menghidupi Pulau Sumatra, tetapi sungguh tragis bahwa listrik di Tarutung harus padam selama 4 jam dalam sehari. Untuk meyakinkan berita ini, coba kita simak Warta Sumut dari Waspada Online berikut ini: 

Waspada Online, Wednesday, 13 January 2010 01:48   

Listrik padam, tarif rekening bertahan

TARUTUNG  – Pemadaman listrik di wilayah PLN ranting Tarutung sudah menjadi rutinitas setiap hari. Akibatnya bebrbagai aktivitas masyarakat seperti industri kecil, rumah tangga, kantor dan badan usaha swasta lainya menjadi terganggu.

Beberapa bulan  terakhir di Taput khususnya di kota Tarutung, Sipoholon dan Siatasbarita.  Anehnya, sekalipun  pemadaman listrik di ranting Tarutung  sering terjadi antara 3 sampai dengan 4 jam per hari kerja, bukan berarti pembayaran rekening listrik per bulanya menjadi menurun.

Jangan menurun ada yang menetap dan membengkak bila dibandingkan dengan rekening bulan bulan sebelumnya.

“Sayapun heran, listrik padam setiap hari selama 4 jam, kalau sebulan sudah 120 jam. Tapi pembayaran justru tetap dan bahkan kadang membengkak. Bagaimana sebeanarnya peraturan tarif yang diterapkan pihak PLN ini, apa asal asalan saja begitu, lagi pula tidak pernah ada pemberitahuan,” sebut warga Tarutung, N br Tambunan, tadi malam.

Yang paling tidak masuk akal lagi, katanya, kalau pembayaran rekening listrik terlambat satu hari saja sudah dikenakan denda. Bila menunggak selama dua bulan saja, bulan ketiga sudah datang pemberitahuan pemutusan listrik dari PLN ranting Tarutung.

Tidak Punya Terobosan
Soal pemadaman listrik, anggota dewan setempat menuding Pemkab Taput tidak punya terobosan. “Pemadaman listrik di Taput, bukan berarti kita tidak punya stok listrik. Tapi pemerintah khususnya Pemkab Taput tidak punya terobosan dan upaya untuk membangun sumber listrik. Yang jelas aset listrik kita cukup menggembirakan , hanya saja kemampuan pemerintah untuk pengelolaan tenaga listrik itu tidak punya,” katanya.

Sebab tenaga listrik dari panas bumi (Geothermal) Sarulla Geotehermal – Taput  saja sudah ada stok 330 MW, yang ekplorasinya sudah dimulai sejak tahun  1996.  Jadi tidak ada alasan dilaksanakan pemadaman karena krisis,’’ sebut anggota DPRD Taput, Jasa Sitompul

Kalau kita membaca berita seperti ini maka reaksi pertama adalah memberi komentar dalam hati, dan kalau ada teman sedang bersama disamping kita maka akan keluar celoteh ‘loak nai hita on ate! = dungu banget kita ini ya..!’. Celoteh yang begini adalah hal yang lumrah dan wajar bila keluar dari masyarakat terutama oleh masyarakat tarutung olehkarena Tarutung merupakan Kabupaten yang sama tuanya dengan Indonesia yang terbentuk sebagai Negara tetapi masih saja tertinggal dari kemajuan-kemajuan yang sudah sewajarnya dicapai selama alam kemerdekaan ini. 

Dari 43 titik geothermal yang ada di Tarutung sekitarnya (Tapanuli Utara), sebenarnya sudah dimulai eksplorasinya di salah satu titik geothermal di tahun 1996, yaitu yang berada di Sarulla dengan taksiran stok energi listrik sebesar 330 MW, termasuk yang terbesar di dunia untuk satu lokasi geothermal. 

Pada Juli 2006 telah resmi ditandatangani pelaksanaan pembangunannya yang dimenangkan oleh sebuah konsorsium yang terdiri dari Metco-Ormat-Itochu. Biasanya output yang dapat dihasilkan dari satu lokasi geothermal hanyalah berkisar 30-60 MW dan sangat jarang yang berkemampuan seperti Sarulla dengan output sekitar 330-340MW, maka disebutkan yang terbesar. 

Dari belasan pembangkit geothermal yang sudah beroperasi di Indonesia dan hasil outputnya baru sebesar sekitar 800 MW saja dibanding Proyek Sarulla yang mampu menghasilkan 340 MW, sungguh sebuah fasilitas besar dan  Proyek Sarulla menjadi fasilitas pembangkit yang terbesar untuk satu titik lokasi geothermal dan menjadi proyek terbesar pula untuk satu kontrak kerja. 

Sebenarnya Proyek Sarulla ini dibangun dalam tiga fase dalam kurun waktu 5 tahun yang masing-masing fase menghasilkan 110-120 MW. Pembangkit pertama dijadwalkan dapat beroperasi dalam waktu 30 bulan dan kemudian 48 bulan kemudian dapat diselesaikan keseluruhannya.

Siklus Kombinasi Pada Proyek Geothermal Sarulla

Apabila Proyek Geothermal Sarulla ini memang dilaksanakan sesuai jadwalnya maka seharusnya sudah berproduksi secara full-capacity dan sudah mendapatkan revenue sebesar US$ 110 juta dari penjualan listriknya. Proyek Geothermal Sarulla yang ditaksir berbiaya US$ 600 juta ini seyogianya sudah meramaikan kota Tarutung dengan orang-orang asing yang terlibat dalam konsorsium itu, tetapi kenyataannya sepi-sepi saja, apa proyek ini sudah bungkam? Ternyata pelaksanaan proyek ini molor dan disebutkan akan selesai tahap pertamanya pada tahun 2010 sekarang ini dan rampung tahap akhirnya sekitar akhir 2011. 

Titik geothermal sejenis sebenarnya masih banyak terdapat di Tarutung sekitarnya semisal yang ada di Sibadak dan Riaria dudah dapat langsung di-eksplorasi tanpa butuh waktu yang panjang untuk studi kelayakannya. Kalau total pembiayaan senilai US$ 600 juta setara Rp 5,5 triliun bukanlah pembiayaan yang berat bagi Indonesia, karena hanya sebuah bank kecil seperti Bank Century dengan gampang saja dirampok senilai Rp 6,7 triliun. Kalau uang Negara demikian gampangnya dirampok orang, kok untuk membangun fasilitas untuk kemaslahatan orang banyak tak niat…? Memang tragis Negara ini….

Pembiayaan Proyek Geothermal Sarulla, 30% bersumber dari pendanaan Internal perseroan (konsorsium) sementara 70% merupakan pinjaman dari JBIC dan OPIC (Overseas Private Investment Corporation, dimana kepemilikan proyek 62,5% oleh Metco, 25% oleh Itochu, 12.5% oleh Ormat.

Mudah mudahan Tarutung sudah berenergi dalam waktu dekat ini supaya Tarutung menjadi hidup dan menggeliat seperti siklus hidup manusia Batak menjadi Mora-Gabe-Sangap seperti yang dikumandangkan oleh Nahum Situmorang yang memang berasal dari Tarutung juga.

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: