SARULLA YANG SEMULA KOK LABUAN YANG DULUAN

Sarulla mula ni lola Labuan jumolo dapotan 

Tepat pada hari dimana rakyat Indonesia melakukan demonstrasi besar-besaran tentang kinerja Kabinet Bersatu Jilit-2 yaitu Kamis 28 Januari 2010 yang tepat sebagai 100 hari yang dijanjikan SBY untuk menguji keseriusannya memimpin Negara, maka SBY pun berdemonstrasi melalui pidatonya pada saat yang bersamaan meresmikan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Labuan Banten yaitu untuk PLTU yang namanya hampir sama; PLTU Labuan di Pandeglang Banten dan PLTU Labuan Angin di Tapanuli Tengah Sumatera Utara. 

Kedua PLTU yang penamaannya hanya berbeda sebatas angin, dimulai pembangunannya pada tahun 2006 dan tepat rampung pada akhir 2009 sesuai rencana. PLTU ini mampu menghasilkan energi listrik sebesar 300 MW untuk PLTU-Labuan dan 2 x 115 MW untuk PLTU-Labuan Angin yang menggunakan Bahan Bakar Batubara untuk menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin-uap, kemudian menggerakkan generator listrik. 

Dalam rangka memenuhi program energi listrik 10.000 MW, maka dua PLTU ini adalah salah satu solusi untuk mencapai target yang dicanangkan, dan tentusaja hasil upaya ini menggembirakan masyarakat yang selama ini selalu mendapat kendala energi listrik. Namun ada pula beberapa pertanyaan yang muncul untuk dikemukakan bahwa pada saat banyaknya wacana tentang clean energy atau istilah krennya disebut blue energy ternyata Indonesia masih lebih mempertimbangkan penggunaan sumber energi batubara didahulukan dibanding dengan sumber energi lainnya yang sebenarnya jauh lebih baik yaitu geothermal. Selain itu muncul pula pertanyaan lainnya bahwa jauh sebelum PLTU ini (PLTU Labuan Angin) direncanakan, sudah dirancang pembangunan PLTPB (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) yang berlokasi tidak begitu jauh dari situ yaitu di Sarulla (Perbatasan Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah) yang dinamai PLTPB Sarulla di tahun 1996. Lalu, mengapa bisa PLTPB yang lebih unggul segalanya dibanding PLTU-Batubara menjadi didahulukan? 

Kebetulan dua pembangkit listrik ini; PLTU – Batubara Labuan Angin dan PLTPB – geothermal Sarulla terletak di Tanah Batak dimana budaya berpantun sangat menonjol dalam kehidupan mereka sehari hari, maka muncullah pantun yang orang sana sebut dengan umpasa yang berbunyi sebagai berikut: 

  • Molo adong solot di roha, marimbar do pambahenan
  • Sarulla mula ni lola, Labuan Angin jumolo dapotan 

Yang artinya kira-kira: 

  • Bila ada terselip di hati, maka ada perbedaan perlakuan
  • Sarulla duluan dimulai, Labuan Angin lebih dulu diselesaikan 

Mengapa PLTPB Sarulla menjadi tersendat-sendat penyelesaiannya? Apakah karena adanya pergantian kepemilikan yang berganti-ganti? Apakah karena banyak persoalan pertanahan? Apakah karena investasi awal yang lebih mahal? Atau apakah karena masyarakat disana tidak menyambut pembangunan menjadi penting di daerahnya? Padahal kalau dilakukan secara overall comparison maka geothermal jauh lebih menguntungkan dibanding batubara, so what? Gitu lho… 

Khabarnya dua PLTU-Batubara yang diresmikan oleh SBY pada Kamis 28 Januari 2010 itu bermasalah. Diperkirakan hanya mampu menghasilkan energi listrik hanya sebesar 30%-nya saja, karena material yang dipasok oleh kontraktor China yang melaksanakannya dicurigai tidak mampu mendukung kapasitas optimalnya. Selanjutnya diperkirakan pula bahwa dalam 5 tahun kedepan akan menjadi masalah pula pasokan listrik dari dua pembangkit ini. Tentu ini menjadi kasus-kasus yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum mengambil keputusan yang menyangkut kemaslahatan rakyat jangka panjang, agar tidak menjadi slogan-slogan kesuksesan pembangunan yang semu yang hanya bertujuan untuk suksesi kepemimpinan. 

Sebenarnya di Sarulla terdapat 8 titik dari 43 titik geothermal yang terdapat disekitar Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Satu titik yang sedang dieksplorasi sekarang mampu menghasilkan energi listrik sebesar 335 MW, satu lagi sumur diantara 8 titik itu bahkan mampu menghasilkan 350 MW yang menjadi sumur berkemampuan terbesar di dunia. Bagaimana pula bila ke 43 buah titik geothermal yang terdapat di Tarutung ini dijadikan pembangkit listrik? Boleh jadi Tarutung tidak akan mengenal malam alias tidak ‘mangholom = kelam’ dan rejekipun menjadi terang benderang. 

Bila ditelusuri kepemilikan PLTPB Sarulla memang sudah beberapa kali berganti tangan. Semula PLTPB Sarulla dimiliki oleh Unocal dari Amerika Serikat, lalu dijual kembali ke PLN dan Pertamina, dan sekarang berpindah tangan ke sebuah konsorsium Metco-Itochu-Ormat yang membentuk sebuah perusahaan dibawah naungan nama Sarulla Operation Limited (SOL). 

Kalau di Sarulla atau Tarutung secara umum, masyarakatnya cukup pintar bernyanyi-nyanyi. Banyak juga komponis yang berasal dari sana, misalnya saja Nahum Situmorang, S. Dis, Bonar Gultom. Maka kata sol diartikan mereka sebagai not-lagu ke-5; do-re-mi-fa-SOL…… dan supaya lengkap seharusnya dilanjutkan dengan not-lagu berikutnya yaitu la-si-do… Di benak muncul juga kekhawatiran apakah SOL akan berganti kepemilikan lagi, sama seperti tangga lagu tersebut? Mudah mudahan tidak adalagi penundaan penyelesaiannya, cukuplah sampai di SOL saja…

Pulang kampung>>>

Tags: , , , , , ,

2 Responses to “SARULLA YANG SEMULA KOK LABUAN YANG DULUAN”

  1. harlan simatupang Says:

    kenapa dilamain proses saya tau pemerintah taput kurang gregetan atau tidak punya intelektal yang tinggi untuk melobi pemerintah pusat, cuma pintar berkoar koar i rumah nya sendiri ama di lapo sambil minum tuak seperti anggota dewan otaknya duit mulu

  2. maridup Says:

    Kegemasan Bung Harlan Simatupang tentang kinerja pemda di taput tentu sama dipahami oleh banyak orang yang masih mencintai taput, oleh karena itu coba kita sama-sama mengusik semua aparat disana supaya hatisanubarinya berbicara tentang ketertinggalan Taput dibanding daerah lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: