Gaji Buruk Versus Gizi Buruk

Kalau kita mengatakan Gaji Buruk bukanlah berarti semata ditujukan kepada seseorang yang diistilahkan dengan makan gaji atau yang melakukan suatu pekerjaan dengan mendapatkan imbalan gaji, akan tetapi lebih tepat dikatakan kepada orang-orang yang berpenghasilan sangat rendah atau bahkan samasekali tidak mempunyai penghasilan dan lazim juga disebut miskin. 

Sungguh sebuah kenistaan apabila diantara jutaan atau katakan bahwa sebagian besar orang Indonesia yang berkelimpahan dosa masih saja ada diantaranya yang berkelimpahan nista, menderita dalam kemiskinan harta dan bahkan untuk mendapatkan haknya untuk hidup seolah tidak diijinkan di bumi Indonesia ini. 

Kenyataan ini bukan hanya rekaan atau menjadi sebuah berita yang disensasikan, tetapi sungguh benar banyak terjadi di Indonesia. Bukan hanya terjadi kepada orang dewasa tetapi juga terjadi kepada anak-anak dan bahkan bayi. Bukan hanya terjadi kepada orang di perkotaan, tetapi juga terdapat di pedesaan. Kalau dikatakan Indonesia adalah Surga di Zamrud Khatulistiwa, ini semakin mengesahkan bahwa di surga ternyata masih ada penderitaan. Mengapa demikian? Karena penduduk Surga Khatulistiwa tersebut lebih banyak yang mendapatkan berkah, kurnia, rezeki yang berkelimpahan dosa.Upah dosa katanya maut, lantas banyaklah penduduknya yang mendapat giliran direnggut maut. 

Tersebutlah seorang bayi perempuan asal Kabupaten Batu Bara Sumatra Utara yang lahir tanpa batok kepala (anencephal) dan sempat menjalani perawatan selama 12 jam di RSUD HAMS Kisaran, meninggal dunia pada Kamis 25 Pebruari 2010. Berdasarkan informasi, bayi itu lahir pada Selasa 23 Pebruari 2010 dan sempat menjalani perawatan sekitar 12 jam. Pada Rabu 24 Pebruari 2010, pihak keluarga membawanya pulang karena keterbatasan biaya. Kartu Jamkesmas tak cukup membiayai perawatannya. Sawaluddin (25 thn.) yang beristrikan Salamah (21 tahun) hanya bekerja serabutan dan tinggal dirumah papan tanpa penerangan listrik. 

Kalau membaca berita ini tentu kita akan mempertanyakan fungsi RSUD HAMS Kisaran itu bukan lagi sebagai institusi kesehatan sebagai tempat tujuan seseorang yang mengajukan pertolongan yang diluar kemampuannya untuk dapat selamat. Apalagi dokter-dokter yang berlindung diatas sumpah, sudah pasti mengetahui bahwa apabila dibawa pulang, secara keilmuannya sudah pasti tau sang bayi akan direnggut maut. Bayi itu meninggal karena tidak mendapat perawatan intensif dirumahnya yang tak berpenerangan listrik itu. 

Sumpah Seorang Dokter: 

Demi Allah, saya bersumpah bahwa :

  1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
  2. Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
  3. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
  4. Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
  5. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
  6. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
  7. Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
  8. Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbang an keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
  9. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
  10. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Tersebutlah bayi kembar penderita gizi buruk Rorezeki dan Rezeki berusia 11 bulan asal Sipaholon, Tarutung, Sumatra Utara, akhirnya meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM). “Bayi Rezeki meninggal pada Minggu 28 Maret 2010 sekira pukul 15.30 WIB, sedangkan Rorezeki pada Selasa 30 Maret 2010 sekira pukul 08.30 WIB,” terang Kassubag Humas RSUP HAM Sairi M. Saragih DCN M. Kes di ruang kerjanya, Senin 6 April 2010. 

Contoh dua peristiwa ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kasus gizi buruk. DR.Dr.Tb. Rachmat Sentika, seorang dari Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak bahwa hasil riset yang dilakukan oleh UNICEF di tahun 2009 terdapat sekitar 8,3% dari 28 juta balita di Indonesia , artinya 2.324.000 balita mengalami gizi buruk. 

Jika seorang bayi mengalami gizi buruk maka perkembangan sel-sel otak akan terhenti, bahkan disebutkan bahwa akibat gizi buruk tidak akan dapat diperbaiki, karena perkembangan kesempurnahan otak akan terhenti pada usia 6 tahun, sehingga apabila tidak cepat ditanggulangi maka akan terjadi kebodohan permanent pada seorang anak. 

Kita boleh membayangkan apabila anak yang mengalami gizi buruk ini nantinya dipaksakan menjadi abdi Negara (pegawai atau aparat pemerintah yang digaji oleh rakyat melalui Negara) maka setengah dari pegawai dan aparat pemerintahan Negara Indonesia ini akan melayani rakyat Indonesia. 

Apabila kita mengandaikan itu yang terjadi, coba simak berikut ini:

  1. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari Menteri-menteri adalah orang-orang bodoh?
  2. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari Anggota Dewan adalah orang-orang bodoh?
  3. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari aparat TNI adalah orang-orang bodoh?
  4. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari aparat Kepolisisn adalah orang-orang bodoh?
  5. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari aparat Kejaksaan dan Kehakiman adalah orang-orang bodoh?
  6. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari anggota Satpol PP adalah orang bodoh?
  7. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari Gubernur yang ada di Indonesia ini adalah orang-orang bodoh?
  8. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari Bupati di Indonewsia ini adalah orang-orang bodoh?
  9. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari petugas Pajak adalah orang-orang bodoh?
  10. Apakah anda mampu membayangkan bahwa setengah dari Guru negri dan Dosen negri adalah orang-orang bodoh?

Yang paling mengkhawatirkan apabila hal ini harus terjadi maka menjadi timbul pertanyaan, apakah ada diantara yang menjadi abdi dan wakil rakyat sekarang ini ada yang ex-gizi buruk? Kalau memang ada, berapa banyak jumlah mereka? Apapula akibatnya? Kemana pula Negara ini akan mereka bawa? Perlu kita renungkan…. 

Rezeki adalah suatu kurnia dan berkah, yang akan menjadi tujuan mulia dari setiap orang untuk diraihnya selagi dia masih hidup. Kalau dahulu banyak berkembang pendapat yang mengatakan bahwa banyak anak banyak rezeki. Maka demikianlah Ayah dan ibu yang berasal dari Sipoholon itu merasa mendapatkan rezeki atas kelahiran anak kembarnya dan mereka mengungkapkan kebahagiaannya itu dengan menyematkan nama anak mereka dengan sebutan Rezeki dan Rorezeki dimana “ro” dalam bahasa Sipoholon diartikan dengan “datang”, sehingga Rorezeki berarti Datangrezeki. Tragisnya rezeki itu direnggut juga dari keluarga miskin itu. 

Sebenarnya Kabupaten Tapanuli Utara dimana terletak Kecamatan Sipoholon sudah tersemat sebagai daerah Peta Kemiskinan pada SUSENAS tahun 1984. Mungkin sampai saat inipun kabupaten ini dianggap masih menyandang peta kemiskinan. Kalau peta kemiskinan tentu banyak juga yang kurang gizi sebagaimana disebutkan pada kasus bayi Rezeki dan Rorezeki. Rita Turnip –Kabid Bina Kesehatan Taput mengatakan bahwa ada 5 orang yang menderita gizi buruk dan 199 orang penderita kurang gizi. Apakah data ini data gunung-es yang hanya terlihat sedikit dipermukaan? Kalau melihat sudah sedemikian lama peta kemiskinan tersepat untuk Kabupaten Tapanuli Utara, dicurigai masih banyak lagi data yang belum muncul ke permukaan. 

Kalau Kabupaten Tapanuli Utara sudah sejak tahun 1984 tersemat sebagai daerah peta kemiskinan, tentu sudah selama 26 tahun gelar ini disandangnya. Anehnya, katanya manusia Batak yang ada di sana tidak mau mengakui bahwa mereka adalah masyarakat yang masuk kategori peta kemiskinan. Bahkan mereka sering berargumen bahwa semiskin-miskinnya orang Batak disana, kalau hal makan pasti terpenuhi. Kenyataan membuktikan bahwa Rorezeki dan Rezeki dijemput maut karena Gizi Buruk. 

Bila jumlah tahun ini disetarakan dengan usia manusia maka bila sejak tersematnya gelar tersebut terdapat bayi yang mungkin ada mengalami gizi buruk, maka pendapat ahli yang disebutkan di atas mempertegas bahwa ada penduduk Kabupaten Tapanuli yang bodoh. Mudah-mudahan  rakyat kabupaten ini tidak dilayani oleh abdi Negara yang bodoh. 

Kalau begitu Gaji Buruk bukan lagi versus Gizi Buruk tetapi Gaji Buruk akan sama dengan Gizi Buruk. Untuk membuktikan apakah ada Gaji Buruk di Kabupaten Tapanuli Utara, maka harus kita cari dulu besaran income per kapita penduuduk Kabupaten Tapanuli Utara, Apakah data ini ada di situs resmi kabupaten ini? Selamat mencari.

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: